Minggu, 20 September 2020





Paket Cinta Buat Puan Belinda dan Kawan-Kawan

(oleh Rafael Sirait Jaya)


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat bertemu kembali, semoga semuanya selalu dalam lindungan Allah Swt. sehat, bergas, waras. Sahabat Pembelajar X IPA 1, ada beberapa siswa menggebu-gebu menodong saya minta kisi-kisi penilaian tengah semester (PHT). Akhirnya, saya tidak punya pilihan: menyerah dan memberikannya. Lagi pula hampir semua kolega saya mengucurkan bantuan kisi-kisi. So, ya ikut arus main stream daripada diglendengi Bu Lurah Belinda dan pengawalnya si Rafael yang suka bawel.

Simak baik-baik Gaes, materi pertama, teks bacaan LHO meliputi gagasan utama bacaan, struktur teks, kalimat definisi, pernyataan umum, aspek yang dilaporkan, kata baku – tidak baku, sinonim – antonim, jenis kata (nomina, verba, adjektiva), frasa (frasa verbal, nominal). Kedua, teks prosedur kompleks. Di materi kedua ini, Anda harus menyiapkan diri tentang struktur teks, kalimat pendeskripsi, penjenis,  kalimat simpleks, kalimat kompleks, kalimat imperatif, kalimat deklaratif,  kalimat majemuk/kompleks setara, kalimat majemuk bertingkat/subordinatif, kata ganti/pronomina, mengurutkan kalimat prosedur, verbal material, verbal tingkah laku, konjungsi temporal, konjungsi antarkalimat.

Saya ingatkan Gaes, Anda jangan menjadi hamba kisi-kisi. Seolah-olah kisi-kisi menjadi jimat segalanya dan tanpa kisi-kisi kalian akan mati. Akan lebih elegan apabila hal-hal yang tidak dipahami dalam materi pelajaran, Anda tanyakan kepada guru pengampunya secara langsung. Informasi yang di dapat melalui sumber lain, misalnya dari internet bisa dijadikan sebagai pembanding, bukan sumber primer. Informasi yang berasal dari media massa belum tentu dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Sebab, siapa pun dapat menulis dan mengunggahnya.

Terus belajar, jangan malu bertanya. Malu bertanya salahe dhewe. Insya Allah, sukses, berkah dunia akhirat semuanya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

 

 

 

Minggu, 08 Maret 2020

UNTUK KAMU SANG PEMBURU




M/Pemburu Kisi-Kisi
(oleh Dilla Azuhra)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Semoga Allah Swt. selalu memberikan keselamatan, rahmat, dan keberkahan bagi kita semua. Alhamdulillah, semua sehat, semangat, melesat, hebat, dunia akhirat.

“Pak, kisi-kisi US bahasa Indonesianya mana?” tanya beberapa hunter kisi-kisi. Weladahah, mengapa masih terus bertanya tentang itu. Padahal pelajar zaman dulu tidak ada tanya masalah kisi-kisi. Sangunya cuma satu ngelmu titen. Niteni apa yang dikatakan, disimbolkan, oleh guru. Oleh karenanya, pelajar zaman bahula mesti memahami karakter masing-masing guru.

Namun, mau dikapake maning, zaman sudah berubah. Sudah tidak berlaku lagi tembung adi luhung ngelmu iku kelakone kanti laku. Prinsip yang muncul kemudian adalah yang penting nilai. Akibatnya, lahirlah pelajar-pelajar gemar fotokopi soal-soal tes/ujian tahun sebelumnya untuk menghafal jawaban, termasuk juga dalam hal ini adalah pemburu kisi-kisi.

Sebenarnya kalau yang meminta-minta hanya Dimas, Asmur Kamrin, Dandy, tidak diberi gak masalah. Ya, hitung-hitung sebagai pengurang dosa mereka. Namun, kalau yang meminta orang “bersih-bersih”, semacam Azuhra, Ahtalla, Ahsyanti, dan Ah2 yang lain, rasanya saya sebagai orang tua harus menyesuaikan dengan mereka.
 
Baik, kalian semua masih ingat urut-urutannya, bukalah soal-soal uji coba kemarin. Ya materinya seperti itu. Sekadar stressing untuk diingat-ingat dan dipelajari mbok-mbok keluar dalam soal besok pagi. Namanya, saja mbok-mbok, artinya, bisa saja: bisa KELUAR, bisa ORA.

Coba simak kembali masalah ejaan (tanda baca, huruf kapital), puisi lama (pantun, syair, gurindam, karmina), konjungsi (korelatif, koordinatif, subordinatif), frasa (endosentris, eksosentris, koordinatif, subordinatif, frasa nomina, verba, adjektiva, dll.).

Saya rasa ini saja, selamat berjuang. Semoga Allah memberikan kemudahan, kalancaran, kesuksesan, dan keberkahan. Amin.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Rabu, 26 Februari 2020

ESAI


Mencari Wajah Tersembunyi di Balik Meja
(oleh Haryo Swandaru)

Ingatlah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasad, ia adalah hati.”



  
Setiap kali menyusuri deret meja siswa di setiap kelas ada sesuatu yang ngeri-ngeri sedep. Ngeri? Ya kalau dibiarkan berkelanjutan hal ini bisa saja berefek lebih tragis dari korban susur sungai yang menimpa saudara-saudara pelajar kita di Turi, Sleman, Yogyakarta itu. Sedep, ya karena kadang-kadang bikin kita menahan gelak tawa sendiri.
Ada apa sih dengan meja-meja siswa kita sekarang, kok bikin ngeri-ngeri sedep? Di sekolah ini hampir menjadi kelangkaan menemui meja siswa yang bersih dari tulisan. Persentase meja yang sudah dicorat-coret bisa separuh lebih, bahkan 2/3. Ini artinya sudah lampu merah karena siswa sudah terpapar vandalisme.
Ada beragam hasil kreativitas tangan-tangan jahil ini. Dari yang biasa-biasa, seperti rumus-rumus kepekan ulangan. Ungkapan-ungkapan hati, seperti I love you Ulin, kamu cantik tapi ganas, hingga pisuhan-pisuhan tidak senonoh yang sebenarnya tidak layak diproduksi oleh anak-anak sekolah, semacam kowe koyo kebo, bangsat, cebleng, segawon, dan sejenisnya. Kosa kata yang berkelindan dengan dunia perhewanan dan semacam itu kalau menjadi ujaran yang permisif di sebuah sekolah, sebuah komunitas yang mengaku beradab, berarti ada sesuatu yang sakit. Supaya tidak menimbulkan bencana yang mewabah seperti virus Corona, hal ini perlu segera diobati.
Mengobati virus vandalisme yang sudah stadium 4 ini, tidak bisa hanya dengan mengecat kembali meja-meja yang menjadi korban mereka. Tampak sepintas menyembuhkan, tetapi wabah itu akan segera muncul kembali. Sebab, aktor-aktornya masih bergentayangan di sekitar TKP. Oleh karenanya, obat yang mujarab adalah dengan menangkap mereka, para pelaku vandalisme ini.
Menemukan para pelaku vandalisme ini bukan perkara mudah. Sebab, mereka ini bukan anak-anak biasa yang lugu. Mereka punya pengaruh di sekolah, terutama komunitas yang merasa super. Jangan harap kalau kita mencurigai mereka, lantas mereka terus mengakui sebagai pelakunya. Mereka sangat lihai beralibi untuk membela diri. Namun, bagi seorang interogator ulung alibi-alibi mereka justru makin menguatkan bahwa merekalah suspect tersangka.
Sesuatu yang terlahir adalah cerminan yang ada di dalam hati kita. Kaitannya dengan masalah pelaku vandalisme meja ini. Sebenarnya tidak terlalu sulit menemukan pelakunya. Misalnya, tulisan-tulisan yang berkaitan dengan ucapan-ucapan tidak senonoh dan perhewanan. Untuk mengidentifikasi pelakunya, dengar saja di situ siapa saja, siswa mana yang sering memroduksi ujaran tersebut. Katakanlah, misalnya si Ekawanti atau Aghis dan kelompoknya, acapkali bersinggungan dengan kata-kata segawon, bangsut, wedus, dan sejenisnya. Berarti tidak jauh dari mereka pelakunya. Dengan demikian, sangat tidak tepat misalnya kita mencurigai anak-anak seperti Dimas, Dhavi, yang kesehariannya bersih dari produksi ujaran perhewanan.
Jadi, siapa yang bersembunyi di balik meja itu sebenarnya sudah gamblang. Wajah-wajah itu berkorelasi positif dengan rupa meja yang ditempatinya. Yang mejanya bures, urek-urekan, maka yang menempatinya pun tidak jauh dari itu. Oleh karena itu, sudahilah perbuatan vandalisme yang sebenarnya menurunkan derajat kita sendiri, baik di hadapan sesama siswa maupun di hadapan Allah Yang Mahatahu. 

KISI-KISI US 2022

      Bijak Menyikapi Kisi-Kisi                                                             (oleh Sartono Jaya)           A lhamdulill...