Tampilkan postingan dengan label Liputan peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liputan peristiwa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Oktober 2015

BERITA


SEMARAK HUT SMADA 2015
(oleh Sartono Jaya)

Ahad (18/10/2015) gelaran hari ulang tahun (HUT) SMA Negeri 2 Magelang (Smada) dimulai. Hajatan peringatan HUT Smada ke-36 kali ini disemarakkan dengan berbagai lomba.
Suasana cerah Ahad pagi itu (18/10) secerah wajah-wajah panitia menyambut para peserta lomba yang berasal dari berbagai sekolah di Kota Magelang dan sekitarnya. Setelah diawali upacara pembukan oleh Plh. Kepala SMA Negeri 2 Magelang, Drs. M. Ambar Waluyo, para panitia pendamping langsung mengantar peserta lomba menuju ke ruang lomba yang sudah ditentukan panitia.
Berbagai lomba yang digelar hari itu ditujukan untuk para pelajar SMP, SD, dan anak-anak prasekolah. Untuk pelajar SMP ada baca puisi, story telling, geguritan. Sementara menggambar, mewarnai, dan fashion diperuntukkan anak-anak SD dan prasekolah. Lomba baca puisi diikuti oleh 18 peserta; story telling mempertemukan 15 peserta. Menggambar, mewarnai, dan fashion, masing-masing diikuti tidak kurang dari 30-an peserta.
Mendekati waktu zuhur, satu per satu peserta lomba pun menyelesaikan tugasnya. Sambil menunggu pengumuman hasil lomba, para peserta berkumpul di halaman panggung Smada. Untuk menghilangkan kejenuhan, para panitia mengisinya dengan berbagai atraksi spontanitas, hiburan, dan kuis. “Kita istirahat dulu, ya, sambil salat zuhur atau menikmati jajanan yang tersedia, “ujar Dija Aulia Majida sambil melambaikan tangannya pada peserta lomba.
Tepat pukul 13.13 WIB, Hadija Aulia Majida Naila, mewakili panitia, membacakan hasil lomba. Baca puisi, juara I puisi: Tesalonika Soliha (SMP Tarakanita), juara II Shania Risanditya Alba (SMP Maarif Grabag), juara III Anissa Larasati Juwita (SMPN 2 Kota Magelang). Story telling, juara I: Rabbiah Qurrotu A’yun (SMP IT Ihsanul Fikri), juara II Dinana Izza Latifa (SMPN 2 Kota Magelang), juara III Angelia Neta Ambar Sagita (SMP Tarakanita). Juara I menggambar Farida irian Jaya, juara II Wanda Rafika, juara III Imam Aura Pratama. Mewarnai, juara I Febe Cindhy Firmansyah, juara II Salma Nur Aeni, juara III Wildan Anwar Hamdi. Lomba fashion, juara I Sekar Kembang Melati, juara II Aldiano Noah, juara III Viktoria Jati Alfaeni.
           Semua pemenang langsung menuju ke panggung dan menerima hadiah. Mereka semua senang. “Kami senang sekali menerima hadiah ini, alhamdulillah, Allahu akbar, “ tutur Tesalonika Soliha, salah satu pemenang lomba dari SMP Tarakanita.

Minggu, 16 Agustus 2015

DIRGHAYU KE-70 REPUBLIK INDONESIAKU


Hari ini, 17 Agustus 2015, kita segenap bangsa Indonesia memperingati momen sangat bersejarah yakni proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Berbagai acara dan ritual peringatan digelar oleh segenap komponen bangsa. Ada upacara, gerak jalan, lomba yang bersifat hiburan. Semua mempunyai muara yang sama, “mangayubagya” hari kemerdekaan RI.
Secara defacto dan de jure, Indonesia memang telah merdeka pada 17 Agustus 1945. Itu sebuah fakfa yang tak terbantahkan. Dan hari ini, persitiwa itu sudah berumur 70 yahun. Sebuah usia yang cukup bagi sebuah bangsa untuk mengelola dirinya demi kesejahteraan masyarakatnya. Akan tetapi, secara jujur mesti kita berani mengakui bahwa masih banyak PR besar yang harus kita kerjakan. Ya, memang harus KITA, bukan PEMIMPIN saja yang mengerjakan. Sebab, kita ini sering berkali-kali lupa akan pelajaran sejarah. Kita sering mengira bahwa bangsa yang besar ini nasibnya hanya ditentukan oleh segelintir para pemimpinnya. Sementara rakyat yang jumlahnya berjuta-juta justru dinafikan. Akibatnya, ketika pemimpin ini tidak memenuhi ekspektasi mereka, mereka lantas menghakimi sebagai pemipimpin gagal, pemimpin tidak becus, dan sebagainya.
Itu pula yang terjadi pada era Sukarno, Suharto, dan presiden-prisiden berikutnya. Bagaimana kemarin tahun 2014, kita masih sangat ingat hampir sebagian rakyat kita tumpleg bleg mengelu-elukan pelantikan Jokowi – JK sebagai presiden kita menggantikan era sebelumnya. Mereka menaruh harapan besar terhadap kedua pemimpin ini bisa membawa negeri ini menjadi negeri yang adil makmur sejahtera gemah ripah loh jinawi. Akan tetapi, kini setelah sepuluh bulan mereka megimami negeri ini, hasil rapornya jeblog, terutama di sisi ekonomi. Rakyat mulai bersuara. Ah, ini pemimpin bohong. Ini pemimpin tidak becus. Intinya, rakyat mulai kecewa. Meskipun peran pemimpin memang begitu besar, tetapi sebagai rakyat, kita juga perlu jujur. Sudah sejauh mana yang kita kerjakan. Jangan-jangan kita ini hanya sekadar menunggu keajaiban dari pemimpin dan cuma ongkang-ongkang tak melakukan apa-apa.
Secara hakiki negeri ini barangkali memang BELUM merdeka. Masih banyak hal yang belum bisa kita handle dengan tangan kita sendiri. Negara sebesar ini masih kalah dengan mafia daging sapi. Betapa kita tak berdaya berhadapan dengan korporasi yang mempermainkan harga daging sapi. Ini berbeda sekali ketika kita berhadapan dengan teroris. Cek, cek, cek. Tangkap, tangkap, tangkap. Cepat sekali! Bahkan, aparat kita bisa menangkap mereka, sebelum mereka bertindak, dengan bukti-bukti lengkap.
Ini barangkali yang membuat sebagian masyarakat kita bertanya-tanya, ada apa dengan aparat kita. Begitu sigap dan galak sekali jika berhadapan dengan saudara-saudara kita yang kebetulan beragama Islam. Meskipun, mereka baru sebatas diduga. Masyarakat juga merindukan sekali mereka bertindak adil menangani kasus Tolikara di Papua. Sampai sekarang Pemerintah, lewat Densus 88 juga tidak pernah menyetempel mereka, para pelaku kerusuhan Tolikara, sebagai teroris. Padahal mereka ini sudah nyata terbukti melakukan, tidak hanya sebatas diduga. Kita bisa membayangkan jika yang terjadi sebaliknya, umat Islam membantai umat Kristen. Tentu dunia sudah geger. Pers, para petinggi negeri ini, dan pemimpin dunia jelas akan menjadikan masalah ini sebagai olok-olok dan kampanye global melawan Islam.

Di bidang-bidang lain kita juga harus bekerja keras. Masalah ekonomi yang mengalami stagnasi, bahkan penurunan, akan membuat berbagai proyek besar infrastruktur yang dicanangkan pemerintah batal digarap. Hal ini juga akan berimbas ke masalah pengangguran. Kalau hal ini tidak tertangani dengan baik, hal ini bisa berimbas ke masalah sosial. Masalah korupsi yang sampai kini belum mampu kita amputasi. Masalah narkoba yang makin menggila menggerogoti anak bangsa, dan lain-lain. Semua itu menjadi PR besar kita.
Sesuai dengan logo peringatan ulang tahun ke-70 kemerdekaan Republik Indonesia “Ayo Kerja”, mari kita kerja nyata sesuai kapling kita masing-masing. Sudah saatnya pemimpin tidak mengumbar janji-janji, tetapi merealisasikan janji-janji. Jangan sampai rakyat bergerak, menuntut janji-janji itu. DIRGAHAYU KE-70 REPUBLIK INDONESIA, INDONESIA JAYA!





SELEKSI ANGGOTA CABARA SMADA 2015

Roda mesti terus berputar dan waktu terus melaju memenuhi sunatullah. Ada yang datang, ada yang pergi memenuhi panggilan hidup masing-masing. Begitu pula dengan Bara Smada, banyak sudah personel yang sudah nongkrong dan berjibaku di rumah ini dan pada saatnya mereka harus pergi juga. Namun, roda organisasi tidak boleh berhenti, Bara Smada harus tetap eksis.
Tahun 2015, masih di bulan Agustus, bulan keramat bagi bangsa Indonesia, Bara Smada merekrut anggota baru. Tahun 2015 menjadi tahun yang gegap gempita bagi Bara Smada. Betapa tidak, antusiasme siswa kelas X begitu tinggi untuk masuk Bara. Ada 81 peserta yang antre ingin masuk habitat Bara Smada. Setelah melalui tahapan seleksi, akhirnya 23 anggota Calon Bara Smada tahun 2015 dinyatakan diterima. Selamat bagi Cabara yang diterim
   
Kepada siswa yang tidak diterima, ini bukan kegagalan, melainkan Tuhan memang telah memilihkan jalan lain bagi Anda untuk menuju kesuksesan. Oleh karena itu, terus berjalan ke depan meraih kesuksesan.

Ucapan salut dan penghargaan yang setinggi-tingginya juga sangat layak diberikan kepada Bara Smada angkatan sebelumnya. Berkat kegigihan Anda, Bara Smada kini memiliki bargaining (nilai tawar) yang diperhitungkan di SMAN 2 Magelang. Hal ini terbukti dari sambutan kelas X yang begitu antusias untuk bergabung dengan Bara Smada. Selain itu, di berbagai gerak dinamika even keorganisasian lingkup SMA, seperti OSIS, pramuka, sejumlah personel Bara Smada juga ikut berkiprah mewarnai.
Anggota Bara Smada boleh datang dan pergi, bahkan itu sebuah keharusan. Akan tetapi, hal yang tidak boleh pergi adalah sikap militansi kesenyawaan hati anggota Bara Smada yang selalu menyatu di mana berada dan kapan pun waktunya. Oleh karena itu, untuk memperteguh kesenyawaan hati itu bagi anggota Bara Smada yang hijrah ke berbagai medan perjuangan, bila ada kelonggaran waktu, tengoklah saudara-saudaramu di pangkalan.  Di sini kami terus-menerus menyalakan Obor Bara Smada yang dulu Kakak-kakak hidupkan di dada kami. Bara Smada Jaya!

Sabtu, 23 Agustus 2014

Upacara HUT RI ke-69 di SMAN 2 Magelang

Ahad 17 Agustus 2014, semua guru, karyawan, dan siswa SMAN 2 Magelang mengikuti upacara peringatan hari bersejarah HUT RI ke-69. Komandan pleton dan komandan upacara diambil dari anak-anak Bara dan Bantara. Sementara sebagai petugas pengibar bendera merah putih adalah pasukan delapan yang terdiri atas anak-anak Bara Smada.  Sedangkan kelompok paduan suara diisi oleh anak-anak ektrakurikuler paduan suara.


Pukul 07.15 upacara dimulai. Upacara berjalan lancar dan khidmat. Peserta upacara yang biasanya agak gaduh kali ini hening. Susana khidmat itu makin terasa ketika pasukan delapan bergerak menuju lapangan. Aba-aba dan hentakan sepatu yang kompak membuat semua peserta upacara takjub dan hormat. Acara-acara lain pun, seperti amanat pembina upacara,  menyanyikan lagu-lagu nasional juga berjalan dengan baik. Hal itu berkat kesadaran semua peserta upacara akan arti pentingnya kemerdekaan.
Mudah-mudahan suasana khidmat dalam upacara peringatan HUT RI ke-69 ini dapat terus berlanjut pada upacara-upacara rutin tiap hari Senin. Kita yakin bisa mewujudkan hal itu, asal kita mau. Smada beraksi, maju berprestasi. Jaya!

KISI-KISI US 2022

      Bijak Menyikapi Kisi-Kisi                                                             (oleh Sartono Jaya)           A lhamdulill...