Senin, 20 Januari 2014

Soal Teks Prosedur Kompleks (X MIPA 1)

Soal Teks Prosedur Kompleks
cara menyambungkan komputer dengan internet menggunakan modem eksternal dewasa ini, internet merupakan media paling revolusioner. banyak pengembangan pada internet, salah satunya adalah perkembangan akses internet menggunakan modem eksternal. bagaimana cara menyambungkan internet menggunakan modem? berikut langkah-langkahnya:
pertama, siapkan satu unit computer dan modem eksternal usahakan modem dalam keadaan baik dan sudah diisi pulsa. pastikan juga terdapat port yang bisa digunakan untuk menyambungkan modem dan pastikan pula, computer menyala. jika modem dan computer siap, colokkan modem pada port. lalu computer akan secara otomatis mendeteksi keberadaan modem.
selanjutnya, bila modem sudah terdeteksi maka program modem akan muncul dan kita bisa langsung menyambungkan computer ke internet. namun, bila program modem belum terinstal maka kita harus menginstalnya terlebih dahulu. bukalah modem, lalu klik setup installer modem (program untuk menginstal modem). selanjutnya, tunggu sampai proses pemasangan selesai dan program modem siap digunakan. lalu, bukalah program modem dan klik “connect” untuk memulai proses penyambungan. setelah proses penyambungan berhasil maka internet siap digunakan.

Kerjakan Tugas Berikut!  (sengaja ditulis dengan huruf kecil semua)
1.       Gunakan huruf kapital secara tepat pada teks tersebut!
2.       Analisislah teks prosedur kompleks tersebut ke dalam unsur-unsur berikut!
a.     Judul
b.     Pendahuluan
c.      Alat/bahan
d.     Tujuan
e.     Langkah-langkah
f.       Struktur kebahasaan
1)    Kalimat imperatif
2)    Kalimat deklaratif
3)    Kalimat interogatif
g.     Verbal material
h.     Verbal tingkah laku
i.        Partisipan manusia

j.       Konjungsi temporal

Teks Prosedur Kompleks

Sekali lagi tentang Teks Prosedur Kompleks

A.    Pengertian
Teks prosedur kompleks adalah teks atau bacaan yang berisi prosedur atau tahapan-tahapan kegiatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dilakukan secara urut.
B.     Struktur Teks Prosedur Kompleks
Struktur teks prosedur kompleks meliputi: judul, pendahuluan, bahan/alat, tujuan, dan langkah-langkah.
1.     Judul adalah kepala karangan dari teks prosedur kompleks. Contoh: cara menggunakan mentrasfer uang lewat ATM, cara berobat di rumah sakit.
2.     Pendahuluan merupakan bagian dari teks prosedur kompleks yang isinya bersifat umum atau general.
Contoh: Judul: Cara Menyambungkan Internet dengan Modem Eksternal. Dewasa ini, internet merupakan media paling revolusioner. Banyak pengembangan pada internet, salah satunya adalah perkembangan akses internet menggunakan modem eksternal.
3.     Bahan atau alat pada teks prosedur kompleks dibutuhkan terutama pada teks prosedur kompleks yang menyatakan langkah-langkah dalam membuat sesuatu.
4.     Tujuan adalah maksud yang ingin kita capai dari suatu hal.
Contoh : Berikut ini hal yang harus Anda lakukan ketika mengikuti ujian. Dengan memperhatikan hal tersebut Anda dapat mengerjakan ujian dengan baik dan lancar.
5.     Langkah-langkah adalah susunan tata cara untuk mencapai tujuan. Contoh : Pertama, siapkan peralatan tulis. Kedua, periksalah kelengkapan lembar soal dan jawaban. Ketiga, isilah identitas dengan lengkap dan benar. Keempat, kerjakan soal dengan teliti dan jujur. Kelima, periksa kembali pekerjaan Anda.
C.     Struktur Kebahasaan Teks Prosedur Kompleks
1.       Menggunakan kalimat imperatif, deklaratif, dan interogatif
a.     Kalimat imperatif
Kalimat imparatif adalah kalimat yang isinya memberikan perintah untuk melakukan sesuatu.
1)    Fungsi kalimat imperatif adalah meminta atau melarang seseorang untuk melakukan sesuatu.
2)    Ciri-ciri kalimat perintah adalah sebagai berikut: (1) isinya perintah untuk melakukan sesuatu, (2) intonasinya perintah (nadanya agak naik sedikit), (3) tanggapannya dalam bentuk perbuatan, dan (4) dalam tulisan diakhiri dengan tanda seru (!).
3)    Macam-macam kalimat perintah/imperatif:
a)     Perintah biasa: Usirlah si Pirman itu!
b)    Permintaan: Coba ambilkan kapur itu!
c)     Ajakan: Marilah kita ke masjid sekarang!
d)    Larangan: Janganlah udud di sini!

b.       Kalimat deklaratif
Kalimat deklaratif adalah yang isinya memberikan sesuatu kepada pembaca atau pendengar.
1)    Fungsi : memberikan informasi tentang sesuatu
2)    Ciri-ciri kalimat deklaratif adalah sebagai berikut: (1) isinya memberikan sesuatu, (2) intonasinya netral (nada suara berakhir turun), (3) tanggapan pembaca atau pendengar tidak ada, dan (4) dalam tulisan diawali dengan huruf kapital dan diakhir dengan titik.
c.        Kalimat interogatif
Kalimat Interogatif adalah kalimat yang berisi pertanyaan
1)    Fungsi : meminta informasi tentang sesuatu
2)    Jenis  kalimat tanya itu ada dua macam: (1) kalimat tanya total, yaitu kalimat tanya yang jawabannya ya atau tidak, (2) kalimat tanya parsial, yaitu kalimat tanya yang jawabannya ditentukan oleh kata tanyanya.
3)    Ciri-ciri kalimat tanya: (1) isinya menanyakan sesuatu, (2), intonasinya tanya (naik pada akhir kalimat), (3) tanggapannya berupa jawaban, dan (4) dalam bahasa tulis diakhiri dengan tanda tanya (?).
2.       Partisipan (secara umum adalah manusia)
Secara umum berarti : semua individu yang berperan serta/mengikuti/ ikut andil dalam suatu kegiatan.
Contoh partisipan manusia
a.     Pengendara kendaraan bermotor harus mematuhi peraturan lalu lintas di jalan raya.
b.     Kita harus membayar denda ke bank jika kita melakukan pelanggaran lalu lintas.
c.      Polisi tidak berhak menyita kendaraan dan STNK, kecuali kendaraan itu diduga hasil tindak pidana.
d.     Pengendara yang melanggar lalu lintas akan mengikuti sidang
3.       Menggunakan verba material dan verba tingkah laku
a.     Verba material
Verba material adalah verba yang mengacu pada tindakan atau aktivitas fisik dalam suatu peristiwa/kejadian
1)     Pengendara selayaknya mengecek tuduhan pelanggaran polisi yang menilangnya.
2)     Polisi telah meringkus beberapa pemuda pelaku tawuran antargeng motor  tadi malam.
3)     Kepala hakim sedang menyidang para koruptor di gedung KPK.
4)     Pirmani mendatangi Nency yang sedang membaca buku di perpustakaan.
b.     Verba tingkah laku
Verba tingkah laku adalah verba yang mengacu pada sikap yang dinyatakan dengan ungkapan seperti,
1)    Kakak menolak permintaan Ibu.
2)    Hakim memutuskan Farid bersalah dalam sidang yang diadakan kemarin.
4.       Menggunakan konjungsi temporal
Konjungsi temporal adalah konjungsi yang mengacu pada urutan waktu.
Contoh:
a.     Pertama, Pak Celaka mengalami kecelakaan. Kedua, dia dibawa ke rumah sakit. Ketiga,dia segera dirujuk ke UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.
b.     Pertama, gunakan jas lab pada saat praktikum. Kedua, lakukan percobaan. Ketiga, simpulkan hasil percobaan.
c.      Pertama, lakukan pengecekan kondisi motor sebelum berkendara. Kedua, gunakan helm. Ketiga, berkendara dengan hati-hati.

d.     Pertama, lakukan pengecekan tuduhan pelanggaran lalu lintas. Kedua, tanda tanganilah surat bukti pelanggaran berlalu lintas. Ketiga, lakukan pembayaran ke bank. Keempat, berikan bukti penyerahan surat yang dititipkan.

Ibrah

Andai Lebih Panjang Lagi

(Sebuah renungan untuk kita semua)


÷bÎ) óOçFY|¡ômr& óOçFY|¡ômr& ö/ä3Å¡àÿRL{ ( ÷bÎ)ur öNè?ù'yr& $ygn=sù 4 ÇÐÈ
“Jika kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula.”(Al-Isra’: 7)
Hari itu ada seseorang yang meninggal dunia. Seperti biasanya, jika ada sahabat meninggal dunia, Rasulullah pasti menyempatkan diri mengantarkan jenazahnya sampai ke kuburan. Tidak cukup sampai di situ, pada saat pulangnya, Rasulullah menyempatkan diri singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga yang ditinggalkan supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu. Begitupun terhadap keluarga sahabat yang satu ini.
Sesampai di rumah duka, Rasulullah bertanya kepada istri almarhum, “Tidakkah almarhum suamimu mengucapkan wasiat ataulah sesuatu sebelum ia wafat?”
Sang istri yang masih diliputi kesedihan hanya tertunduk. Isak tangis masih sesekali terdengar dari dirinya. “Aku mendengar ia mengatakan sesuatu di antara dengkur nafasnya yang tersengal. Ketika itu ia tengah menjelang ajal, ya Rasulullah.”
Rasulullah tertanya, “Apa yang dikatakannya?”
“Aku tidak tahu, ya Rasulullah. Maksudku, aku tidak mengerti apakah ucapannya itu sekadar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dahsyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.”
“Bagaimana bunyinya?” tanya Rasulullah lagi.
Istri yang setia itu menjawab, “Suamiku mengatakan ‘Andaikata lebih panjang lagi…. Andaikata yang masih baru… Andaikata semuanya….’. Hanya itulah yang tertangkap sehingga aku dan keluargaku bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu hanya igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai….”
Rasulullah tersenyum. Senyum Rasulullah itu membuat istri almarhum sahabat menjadi keheranan. Kemudian, terdengar Rasulullah berbicara, “Sungguh, apa yang diucapkan suamimu itu tidak keliru.” Beliau diam sejenak. “Jika kalian semua mau tahu, biarlah aku ceritakan kepada kalian agar tak lagi heran dan bingung.”
Sekarang, bukan hanya istri almarhum saja yang menghadapi Rasulullah. Semua keluarga almarhum mengerubungi Rasul akhir zaman itu. Ingin mendengar apa gerangan sebenarnya yang terjadi.
“Kisahnya begini,” Rasulullah memulai. “Pada suatu hari, ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan salat Jumat. Di tengah jalan ia berjumpa dengan dengan orang buta yang bertujuan sama—hendak pergi ke masjid pula. Si buta itu sendirian tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya. Maka, dengan sabar dan telatennya, suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas yang penghabisan, ia menyaksikan pahala amal salehnya itu. Lalu ia pun berkata, ‘Andaikata lebih panjang lagi.’ Maksudnya adalah andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya akan jauh lebih besar pula.”
Semua anggota keluarga itu sekarang mengangguk-angguk kepalanya. Mulai mengerti sebagian duduk perkara. “Terus, ucapan yang lainnya, ya Rasulullah?” tanya sang istri yang semakin penasaran saja.
Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi sekali untuk salat subuh, cuaca dingin sekali. Di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia pun mencopot mantelnya yang lama yang tengah dikenakannya dan diberikan kepada si lelaki tua itu. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, ‘Coba, andaikata yang masih baru yang kuberikan kepadanya, dan bukannya mantelku yang lama yang kuberikan kepadanya, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi.’ Itulah yang dikatakan suami selengkapnya.”
“Kemudian, ucapan yang ketiga, apa maksudnya ya Rasulullah?” tanya sang istri lagi.
Dengan penuh kesabaran, Rasulullah menjelaskan, “Ingkatkah engkau ketika pada suatu waktu suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Ketika itu engkau segera menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur daging dan mentega. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong. Yang sebelah diberikannya kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalnya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata, ‘Kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak akan kuberi hanya separuh. Sebab, andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti pahalaku akan berlipat ganda pula.’”
Sekarang, semua anggota keluarga mengerti. Mereka tak lagi risau dengan apa yang telah terjadi kepada suami dan ayah mereka ketika akan menjelang wafatnya. Kelapangan telah ia dapatkan karena ia tidak sungkan untuk menolong dan memberi.

Minggu, 19 Januari 2014

Khutbah Idul Adha

Naskah Khutbah Idul Adha 1434 H
Belajar dari Kisah Keluarga Nabi Ibrahim AS
(oleh Sartono Jaya)

KHUTBAH PERTAMA:
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3)اللهُ اَكبَرْ (×3
 
اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
 
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ
اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Pada pagi hari yang penuh berkah ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat ‘Idul Adha. Baru saja kita laksanakan rukuk dan sujud sebagai manifestasi perasaan takwa kita kepada Allah SWT. Kita agungkan nama-Nya, kita gemakan takbir dan tahmid sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagungan Allah. Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekadar gerak bibir tanpa arti, tetapi merupakan pengakuan dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman. Allah Maha Besar. Allah Maha Agung. Tiada yang patut disembah kecuali Allah.
Karena itu, melalui mimbar ini saya mengajak kepada diri saya sendiri dan juga kepada jamaah salat Ied sekalian: Marilah tundukkan kepala dan jiwa kita di hadapan Allah Yang Mahabesar. Kita campakkan jauh-jauh sifat keangkuhan dan kecongkaan yang dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT. Sebab, betapa pun hebatnya, betapa pun pintarnya kita, betapa besarnya kekuasaan dan pengaruh kita, kita tidak berdaya dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.
Hadirin Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Idul adha dikenal dengan sebutan “Hari Raya Haji”, saat ini kaum muslimin sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang disebut pakaian ihram. Hal ini melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai persamaan dalam segala segi bidang kehidupan. Tidak dibedakan antara mereka, semuanya merasa sederajat. Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa, sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah.
لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
Di samping Idul Adha dinamakan hari raya haji, juga dinamakan “Idul Qurban” karena merupakan hari raya yang menekankan pada arti berkorban. Qurban itu sendiri artinya dekat. Jadi, Qurban ialah menyembelih hewan ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, untuk diberikan kepada fuqoro’ wal masaakiin.
Masalah pengorbanan, dalam lembaran sejarah, kita diingatkan pada peristiwa pengorbanan Nabiyullah Ibrahim AS untuk menyembelih putranya Ismail yang sangat dicintainya. Sebagimana dapat dilihat dalam Quran surah As Shaaffat 102 – 109
$¬Hs>sù x÷n=t/ çmyètB zÓ÷ë¡¡9$# tA$s% ¢Óo_ç6»tƒ þÎoTÎ) 3ur& Îû ÏQ$uZyJø9$# þÎoTr& y7çtr2øŒr& öÝàR$$sù #sŒ$tB 2ts? 4 tA$s% ÏMt/r'¯»tƒ ö@yèøù$# $tB ãtB÷sè? ( þÎTßÉftFy bÎ) uä!$x© ª!$# z`ÏB tûïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇÊÉËÈ !$£Jn=sù $yJn=ór& ¼ã&©#s?ur ÈûüÎ7yfù=Ï9 ÇÊÉÌÈ çm»oY÷ƒy»tRur br& ÞOŠÏdºtö/Î*¯»tƒ ÇÊÉÍÈ ôs% |Mø%£|¹ !$tƒöä9$# 4 $¯RÎ) y7Ï9ºxx. ÌøgwU tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÉÎÈ žcÎ) #x»yd uqçlm; (#às¯»n=t7ø9$# ßûüÎ7ßJø9$# ÇÊÉÏÈ çm»oY÷ƒysùur ?xö/ÉÎ/ 5OŠÏàtã ÇÊÉÐÈ $oYø.ts?ur Ïmøn=tã Îû tûï̍ÅzFy$# ÇÊÉÑÈ íN»n=y #n?tã zOŠÏdºtö/Î) ÇÊÉÒÈ  
102.  Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
103.  Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
104.  Dan kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
105.  Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
106.  Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
107.  Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
108.  Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian,
109.  (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".

Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril menyaksikan ketaatan keduanya, setelah kembali dari syurga dengan membawa seekor kibasy, kagumlah ia seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menyambutnya  “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Kemudian disambung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’
Hadirin Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah
Inilah sejarah pertamanya korban di Hari Raya Qurban yang kita peringati pada pagi hari ini. Allah Maha pengasih dan Penyayang, korban yang diperintahkan bukan anak kita, melainkan cukup binatang ternak, baik kambing, sapi, kerbau maupun lainnya. Sebab Allah tahu, kita tidak akan mampu menjalaninya, jangankan memotong anak kita, memotong sebagian harta kita untuk menyembelih hewan qurban, kita masih terlalu banyak berpikir. memotong 2,5 % harta kita untuk zakat, kita masih belum menunaikannya. Memotong sedikit waktu kita untuk salat lima waktu, kita masih keberatan. Menunda sebentar waktu makan kita untuk berpuasa, kita tak mampu melaksanakannya, dan berkorban sedikit waktu untuk belajar, kita belum bisa istikamah melaksanankannya. Begitu banyak dosa dan pelanggaran yang kita kerjakan, yang membuat kita jauh dari Rahmat  Allah SWT.
Hadirin Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah
Hikmah yang dapat diambil dari peristiwa Qurban ini adalah
Pertama, bahwa hakikat manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah takwanya. Hal itu terlihat jelas dari jutaan orang yang berwukuf di Padang Arafah. Bukan presiden, bukan pejabat, bukan guru, buka siswa yang Allah lihat, melainkan ketakwaannya di hadapan Allah.
Kedua, untuk mencapai derajad yang mulia, kita perlu melakukan pengorbanan yang sungguh-sungguh disertai keikhlasan. Dengan cara itulah Nabi Ibrahim AS memperoleh kemulian di hadapan manusia dan di hadapan Allah swt.
$oYø.ts?ur Ïmøn=tã Îû tûï̍ÅzFy$# ÇÊÉÑÈ íN»n=y #n?tã zOŠÏdºtö/Î) ÇÊÉÒÈ  
Ketiga, hendaknya kita sebagai orang tua, sebagai pendidik, mempunyai upaya yang kuat membentuk anak yang saleh, menciptakan pribadi anak yang agamis, anak yang berbakti kepada orang tua, lebih-lebih berbakti terhadap Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap putranya Ismail.
Keempat, perintah dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT, harus dilaksanakan. Harus disambut dengan tekad sami’na wa ‘atha’na. Sebab, sesungguhnya ketentuan-ketentuan Allah SWT pastilah manfaatnya kembali kepada kita sendiri.
Kelima, jenis sembelihan berupa bahimah (binatang ternak), mengandung makna dengan matinya hayawan ternak, kita buang kecongkaan dan kesombongan kita, hawa nafsu hayawaniyah harus dikendalikan, jangan dibiarkan tumbuh subur dalam hati kita.
Hadirin Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Akhirnya, mudah-mudahan perayaan Idul Adha kali ini, mampu menggugah kita untuk terus bersemangat, rela berkorban demi kepentingan agama, bangsa dan negara amiin 3x ya robbal alamin.
أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ.
 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA :

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِين وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ. اللهُمَّ رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ



KISI-KISI US 2022

      Bijak Menyikapi Kisi-Kisi                                                             (oleh Sartono Jaya)           A lhamdulill...