Rabu, 31 Oktober 2018

TUGAS KELAS XII (MENGANALISIS UNSUR INTRINSIK CERPEN)


CERPEN
(Beny Arsyad)
Pukul sepuluh malam Jumat kemarin, dering ponselku adalah alarm yang kuatur waktu menyalanya. Aku tahu bahwa kau tidak pernah peduli dengan nada dering yang kupakai sebab mengurus dua anak kita yang masih balita jauh lebih menyita perhatianmu. Ketika kukatakan bahwa aku akan menemui seorang kawan lama di utara kota, kau sedikit keberatan.
Kau sempat membawa-bawa kasus penodongan atau perampokan — yang berujung pada pembunuhan korbannya — yang kerap terjadi akhir-akhir ini sebagai dasar keberatanmu. Aku pun menanggapinya dengan tawa kecil. Ya ya ya, apa yang ingin perampok atau penodong atau pembunuh itu ambil dariku, Sayang. Kita bukan orang yang layak dirampok atau ditodong atau dibunuh. Lagi pula, imbuhku masih dengan berseloroh, kau tahu bukan kalau aku adalah preman yang kaubelokkan ke jalan lengang yang  bernama Mengarang, jalan yang akhirnya kautitipi padaku karena kau ingin berkonsentrasi mengurus anak, jalan yang hingga kini telah mengantarku menjadi pengarang terpandang di kota kita. Kau sering sekali bilang kalau hidupku—hidup kita!—takdirnya memang di sastra. Ah, betapa beruntung dan bahagianya aku memilikimu.
Entah kau menyimak kata-kataku atau tidak, kau langsung menuju dapur dan kembali beberapa menit kemudian dengan dua botol  — dot berisi susu formula cair.
Ah, kau pasti lelah sekali, istriku.
Aku tahu, mengurus dua anak bukanlah perkara mudah. Walaupun kadangkala aku merasa mengarang sangat melelahkan ketika ide tak kunjung berhasil kutangkap. Namun, tentu saja itu belum apa-apa dibandingkan dengan apa yang kaujalani. Ya, aku sempat beberapa kali berniat membantumu mengurus anak kita, bahkan pernah suatu hari aku mencoba mengambil alih anak-anak dengan menyilakanmu belanja ke pusat kota cukup lama, dan hasilnya adalah aku benar-benar kerepotan.
Ah, betapa beruntungnya aku memiliki istri yang begitu mencintaiku. Kau tak pernah mengutarakan rasa kesal, marah, atau perasaan tak bersahabat lainnya dengan banyak bicara apalagi tindakan emosional. Diam. Ya, diam. Begitulah kau mengutarakan ketaksepakatanmu. Aku menghapal tabiat itu ketika aku selalu memintamu “bersabar” saban kau menanyakan kapan kita akan meninggalkan rumah kontrakan dan memiliki rumah baru. Sekali lagi: hanya diam. Aku perlu menegaskan ini karena “diam”-mu tidak seperti “diam”-nya perempuan apalagi istri kebanyakan. Diammu tidak disertai mimik muka cemberut, jutek, kesal, atau marah. Tidak!
Kau sempat membisu hampir tiga hari sebab aku tak mengabulkan keinginanmu menjual mobil pemberian orang tuaku demi membayar uang muka rumah baru. Kau harus tahu, Sayang: memiliki mobil adalah prestise tersendiri bagi pengarang kondang sepertiku—terlepas apakah kita hanya makan nasi telur-kecap setiap harinya dan telah mengganti susu formula anak kita dengan merk yang paling murah harganya.
Ah, ekspresimu ketika tak bersetuju memang tak pernah berubah: bisu. Selalu begitu.
Seperti itu pula yang terjadi malam itu.
Termasuk ketika kutanyakan perihal makanan apa yang ingin kubawakan sepulang menemui Ilyas, begitu aku biasa menyapa teman lamaku itu. Ketika kutanyakan lagi untuk kedua kalinya, seperti merepet dalam volume yang sumir kaukatakan kalau sebaiknya aku tidak pulang kalau tidak membawa rumah baru.
Aku tahu kalau kau muak dengan sikap empat kakak perempuanmu yang terus membanggakan rumah yang dihadiahkan suami mereka, atau bisa-bisa saja kau bercanda …  tapi jangan begitu, Sayang. Kedengarannya keterlaluan dan nyelekit. Aku juga sedang berusaha keras untuk menyumpal mulut mereka dengan rumah kita sendiri. Ah, harusnya aku memaklumi sikapmu sebab mungkin saja kau merasa muak dengan alasan-alasanku karena saban keluar malam—terutama dua pekan belakangan—aku selalu pulang di atas pukul dua belas, waktu ketika kau sudah terlelap di antara kedua anak kita yang khusyuk dengan botol dot susu formula yang isi nyatak lagi penuh.
Pagi ini, kau mengutarakan pertanyaan yang hampir saja mencabut jantungku dari tempatnya berdetak. Aku pun bercerita dengan jujur. Ya, perlu kukatakan dengan lengkap bahwa “aku bercerita dengan jujur—dengan jujur!” agar kau tahu kalau aku memang suamimu yang baik, bukan laki-laki brengsek yang suka main perempuan seperti ketakutan yang tak pernah kauutarakan itu.
Kau menyimak ceritaku dengan saksama. Kadang mengerenyitkan dahi. Kadang membesarkan bolamata. Kadang mengangguk-angguk. Kadang hanya menatap tajam. Semua bahasa tubuh itu kautunjukkan tanpa suara.

Usai menyambut telepon dari Ilyas, kukatakan kepadamu bahwa aku akan segera pulang tak lama setelah menemuinya. Aku memang tak memerlukan jawabanmu. Tentu saja karena aku hapal bahasa tubuhmu kalau tak merestui tindakanku—bukan karena kerepotanmu mengurus dua anak kita yang berebutan balon berbentuk ikan. Kuambil kunci mobil dan melangkah keluar, menuju garasi di belakang rumah. Hebatnya, kau masih sempat mencangking Si Sulung yang berteriak memanggilku dan ingin memaksa ikut. Ah, sebenarnya aku merasa bersalah. Tapi sudahlah. Aku menyalakan mesin mobil sebelum memutar setir ke kiri dan membelokkannya ke jalan utama kompleks.
Di kampus, aku dan Ilyas sangat dekat karena kami sama-sama tergabung di dalam tim nasyid, semacam grup vokal lagu-lagu islam(i), yang kami dirikan. Sejak berpisah sebelas tahun yang lalu, terlebih setelah kami menikah lima tahun yang lalu—bukan berarti kami naik pelaminan di tanggal dan bulan yang sama, kami tak pernah saling kontak. Bahkan, aku yakin, sebagaimana aku yang tak pernah ingat tanggal lahirnya, Ilyas juga tidak menyimpan nomor ponsel baruku. Sebenarnya kami bisa berbagi kabar lewat media sosial karena kami sama-sama berteman di Facebook, namun entah mengapa kami tak melakukannya. Memiliki keluarga benar-benar—bukan hanya menyita waktu ‘bernostalgia’ kami—menyibukkan atau mengasyikan atau melenakan. Ya, apalagi sejak memiliki anak, waktu bersama mereka acap membuatku ‘lupa diri’.
O ya istriku, aku akhirnya menemui Ilyas setelah menyetir lima belas menit dari rumah. Sebagai teman dekat yang lebih sepuluh tahun tak berjumpa, kami berpelukan erat untuk beberapa saat. Di mata kami, ada kerinduan dan kehangatan yang membara. Aku mengajak Ilyas naik ke mobil setelah ia mengatakan bahwa bus yang ditumpanginya sedang mogok dan si sopir sudah memberitahu penumpangnya bahwa perbaikan akan memakan waktu paling cepat dua jam. Aku mengajak Ilyas ke salah satu kafe favoritku yang buka sampai larut malam di pusat kota. Kami membincangi banyak hal. 
Tentang keluarga, pekerjaan, pengalaman menarik, dan tentu saja masa lalu. Kami sangat bersemangat hingga membuat pelayan kafe beberapa kali menegur kami untuk mengurangi volume suara dan tawa yang meledak semaunya.
O ya Sayang, sebenarnya aku menawari Ilyas untuk mampir ke rumah kita, namun ia menolak. Aku baru tahu kalau dia baru saja bercerai beberapa bulan yang lalu. Dengan air muka sedih Ilyas mengutarakan alasan perpisahan mereka. Aku pun memakluminya.Ya, dapat kupahami bagaimana perasaan seorang melankolik seperti Ilyas bila melihat kau yang begitu menyayangiku dan dua anak kita yang lucu-lucu. Ah Sayangku, kalau istri Ilyas mau bersabar, mungkin saja Tuhan akan mengaruniai mereka seorang bayi pada tahun-tahun berikutnya, sebagaimana kita yang bersabar menimang buah hati di tahun kedua pernikahan.
Ah sudahlah, aku harap kau bisa mafhum perihal aku yang tak membawanya ke rumah.
O ya, kau tahu bukan, kalau malam itu aku pulang pukul setengah dua belas. Busnya baru selesai diperbaiki pukul sebelas. Namun bukan itu yang menyebabkanku tiba di rumah setengah jam berikutnya, melainkan karena aku berkelahi dengan seorang penjambret yang hendak merampas tas Ilyas. Alhamduilllah Ilyas dan tasnya selamat, tapi tangan kananku terluka karena menangkis pisau yang diarahkannya kepadaku. Ah,untung saja banyak orang yang datang hingga perampok itu keburu kabur.
Usai mengantar Ilyas ke bangku bus, aku langsung pulang. Kau tahu, itu artinya, aku nyetir ngebut, Sayang.
Sesampainya di rumah, setelah membuka pintu dengan kunci serap yang bergantung di ujung dompet kunci mobil, sebagaimana biasa aku langsung menuju kamar. Di sana, kau dan dua anak kita sudah terlelap. Si Sulung sudah tidur dengan kaki kanan di atas perutmu dan botol dot yang sudah jatuh ke lantai, sementara Si Bungsu masihmengemut ujung kempong dari botol dot yang tak ada lagi isinya … sementara kau, ya, kau masih terlelap dengan mulut yang setengah menganga.
Kau masih ingat, bukan, kalau aku mematikan lampu beberapa saat sebelum memelukmu dan membisikkan sesuatu yang meremangkan bulu kudukmu. Tanpa kata, kita pindah ke kamar sebelah. Di sana, kita bertarung hebat dengan bersenjatakan gairah. Kita mengakhiri permainan satu jam berikutnya sebab Si Sulung sudah memanggil-manggil kita. Ia pasti merengek karena botol-dot susunya tak lagi berada dalam jangkauannya.
Kau tersenyum manis sekali malam itu. Manis sekali. Tentu saja bukan (hanya) karena pertarungan sengit yang memberi kemenangan kepada kita berdua, melainkan karena aku mengatakan bahwa esok kita akan membeli rumah baru di perumahan elite di dekat gerbang kota. Kau langsung memelukku dan kita bertarung lagi.

Istriku … jangan tersipu malu seperti itu.
Maafkanlah kalau ceritaku jadi ngelantur. Aku hanya ingin mengatakan bahwa, itulah berkah kalau kita berbuat baik pada orang lain. Ada-ada saja cara Tuhan menunjukkan jalan agar kita memiliki rumah sendiri. Kau tahu, Ilyas ternyata sudah menjadi kontraktor yang sukses di Jakarta, dan perumahan elite yang hangat diberitakan di koran-koran lokal itu ternyata adalah proyeknya. Entah karena trenyuh mendengar ceritaku sebagai seorang pengarang yang beristrikan seorang wanita rumah tangga, entah dia sedang berulang tahun (jujur, sedekat-dekatnya kami, aku tak pernah ingat tanggal lahirnya), entah dia memang hendak menunjukkan rasa persahabatannya yang begitu tulus, atau karena ia berasa berutang harta—atau juga nyawa (sepertinya ini yang paling mungkin), ia memberi kita salah satu rumah di Blok D. 
Nah, kau sudah tahu cerita yang sebenarnya, kan, Sayang? Ah, harusnya malam tadi kau bertanya tentang tangan kananku yang terluka.
Kau tersipu malu.
Ya, bagaimana mungkin malam tadi kau tak melihat perban di salah satu tangan suamimu. Kau benar-benar bersemangat kalau lampu sudah dipadamkan, Sayang.
Kau tersipu malu,lagi. Kau tentu sangat bangga memiliki suami sepertiku, bukan?
HAMPIR empat bulan kita menempati rumah ini. Namun cerita yang kusampaikan di hari terakhir kita tinggal di kontrakan itu selalu menerorku. Maafkan tentang dering ponsel, Ilyas, penjambret, hadiah rumah baru, dan mobil yang melaju di malam itu ….Maafkan aku telah menyalahgunakan kelihaian mengarangku.
Ilyas itu tak pernah ada. Apalagi hadiah rumah barunya. Pun dengan mobil kita yang hanya kulajukan sebentar sebelum kuparkirkan di bawah pohon mangga sebuah bedeng kos anak-anak sekolahan yang takkan peduli dengan apa yang kulakukan malam itu: menyetop ojek, menyelinap di antara rumpun irish yang rimbun, sepuluh meter dari ATM Bersama di salah satu tepi jalan utama yang lengang di utara kota. Setelah memaksa seorang laki-laki mengeruk isi tiga kartu ATM-nya malam itu juga, aku nyaris berada dalam kemalangan bila saja pisau yang secara tiba-tiba ia keluarkan dari balik pinggangnya mengenai perut atau dadaku (tidak mengenai tangan kananku yang sekaligus melemparkan pistol rakitanku ke tanah). Korban ketiga itu benar-benar susah ditaklukkan. Untung saja ini bukanlah kota yang ramai sehingga perkelahian kami tak menyedot perhatian. Hanya ada dua orang ABG laki-laki—yang sibuk dengan gadget dan headset di telinga—berjalan di trotoar seberang jalan dan sebuah bus antarpulau yang melaju kencang.
Itu adalah operasiku yang terakhir setelah kupikir uang simpanan untuk membelikanmu rumah mewah itusudah lebih dari cukup. Aku benar-benar ingin insaf dalam keadaan tenang,nyaman, dan damai—dan aku lupa kalau semua itu tidak bisa dibeli dengan cara cuci tangan dari tiga kali pembunuhan yang kulakukan!
Sebentar lagi, setelah anak-anak terlelap di kamar mereka, aku akan mengajakmu meninggalkan tempat tidur dan berbicara di ruang tengah. Kupikir kamis malam adalah waktu yang mustajab. Dan keyakinanku bertambah ketika menyadari bahwa kebohongan terakhirku dilakukan pada waktu yang sama, malam Jumat empat bulan yang lalu.  Aku sudah berniat untuk jujur kepadamu,Istriku, Aku tak tahu, apakah aku akan mampu atau justru mengarang kebohongan yang baru. Ah persetan! Yang penting aku sudah meniatkan pengakuan ini, demi ketenanganku, juga ketenangan keluargaku!
Kuhela napas beberapa kali. Sudah terangkai kalimat pembukaan di dalam kepalaku. Terimalah pengakuanku ini, Istriku, batinku. Baru saja kubuka pintu kamar, kulihat kau sudah berdiri di tepi ranjang dengan baju tidur yang empat kancing teratasnya—sengaja kau—lepas dari lubang pengaitnya. Aku tak kuasa menolak.
Dosa  pembunuhan.(*)

Minggu, 28 Oktober 2018

TEKS ANEKDOT

ARTIKEL


NGAJI DARI PERISTIWA 90 TAHUN SUMPAH PEMUDA

Hari ini (Ahad/28/10/2018) kita, khususnya para pemuda memperingati genap 90 peristiwa sumpah sakti, yakni Sumpah Pemuda. Kedigdayaan Sumpah Pemuda tidak perlu diragukan lagi. Berkat sumpah itu, bangsa kita yang waktu itu, jauh sebelum 90 tahun lalu, tercerai berai, perlahan bisa disatukan. Hasil nyata buah persatuan itu yang sangat bersejarah adalah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Kini pelajaran apa yang bisa kita petik dari peristiwa sakti itu? Sejarah telah mengajari kita bahwa untuk menjadi sukses, hebat, diperlukan SUMPAH. Lihatlah sang Danang dari pemuda biasa menjadi orang hebat. Ia menjadi penguasa tanah Jawa yang kemudian dikenal sebagai Panembahan Senopati. Hal itu bisa ia peroleh setelah ia berSUMPAH di hadapan guru spiritualnya, Ki Ageng Juru Martani. Ia berjanji di hadapan gurunya akan mengurangi makan, minum, dan mesu budi, hingga menjadi “orang”. Bahkan, jauh sebelum itu, yakni 231 tahun yang lampau, Gajahmada juga mengucapkan sumpah Amukti Palapa. Sumpah yang dimantra pada tahun 1336 Masehi itu telah menjadikan Majapahit sebuah kerajaan besar di wilayah Asia.
Dalam lingkup yang lebih sempit di Smada pun tidak berbeda. Kita bisa menjadi hebat, MELESAT, apabila mau bersumpah. Tentu saja dalam hal ini adalah sumpah asli, bukan sumpah palsu.   Sumpah asli adalah tekad yang kuat disertai lelaku maksimal untuk meraihnya. Sementara sumpah palsu, sekadar ucapan, suaranya sih bisa saja lebih nyaring karena diteriakkan sambil mendelik-mendelik. Akan tetapi, sumpah itu tidak disertai dengan tindakan nyata untuk mencapainya.
Kini sudah saatnya para siswa, terutama yang kelas 12 untuk bersumpah memberikan yang terbaik. Terbaik bagi dirinya sendiri, bagi orang tua, bagi almamaternya. Apakah mungkin? Sangat mungkin! Anda punya modal semangat dan stamina yang luar biasa. Berbagai kegiatan di seputar ultah sekolah, seperti lomba-lomba dan even lainnya merupakan bukti nyata bahwa Anda semua orang hebat. Di bawah terik matahari yang membakar Anda tetap bertahan. Pulang sampai sore hingga malam hari pun Anda lakoni dengan senang hati.
Permasalahannya sekarang adalah bagaimana melanggengkan semangat itu dalam hal belajar. Jika Anda, para siswa Smada, punya ghirah belajar yang sama dengan semangat Anda saat mengikuti lomba ataupun ritual perayaan ultah sekolah, Anda dijamin sukses. Biarlah nanti menjadi pemandangan umum di Smada, para siswa pulang sampai sore, tetapi asyik membentuk jemaah-jemaah belajar.  Kalau ini bisa dilakukan, merebut perguruan tinggi-perguruan tinggi favorit bagi siswa Smada, bukan hal yang sulit. Dengan demikian, cita-cita Smada hebat, melesat, bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan.
Para anak muda, siswa Smada, sadarilah suka atau tidak suka yang namanya ujian sekolah, ujian nasional itu masih ada. Untuk masuk ke PT pun Anda harus bersaing dengan puluhan ribu peserta melalui tes. Hendaknya momen peringatan Sumpah Pemuda kali ini kita jadikan momen untuk menyadarkan diri mengucapkan SUMPAH: “Satukan tekad untuk menjadi yang terbaik demi orang-orang yang kita cintai.”

Rabu, 24 Oktober 2018

REPORTASE PILIHAN PEKAN INI


SELAMAT DATANG, SANG KETUA OSIS BARU

   Magelang (24/10/2018) SMAN 2 Magelang (Smada) Rabu, 24 Oktober 2018 menggelar  pemilihan umum OSIS (Pemilos).  Pemilos kali ini dilaksanakan untuk memilih Ketus OSIS SMAN 2 Magelang periode 2018/2019.

Pemilos Smada 2018 diikuti oleh tiga kandidat. Ketiganya berasal dari kelas XI, yakni Anandhito Herza Putra, Cendana Putri Aista Wardany, Aida Fitri Andriani. Rangkaian Pemilos tahun 2018 cukup panjang. Dimulai pemaparan visi misi kandidat di hadapan calon pemilih yang dipandu oleh moderator. “Acara ini sengaja kami kemas layaknya debat capres, biar lebih keren dan mendekati pemilu asli, “ demikian papar Hanif Iqbal Prasetyo, salah satu Pengurus MPK. 

Acara penyampaian visi, misi, dan debat kandidat yang digelar pada Kamis, 11 Oktober 2018 ini mendapat sambutan antusias dari sebagian besar warga sekolah. MPK sebagai panitia Pemilos merakit hajatan ini cukup apik. Ruang panggung di halaman tengah Smada sengaja didesain untuk menggelar acara ini. Di depannya, sebuah tenda juga dipersiapkan khusus untuk dewan guru dan para tamu undangan. Sementara para siswa, sebagai calon pemilih utama, dibebaskan untuk memilih tempat duduk di area taman depan ruang panggung.

Prosesi pemaparan visi, misi, dan debat yang dipandu moderator, Mutiara Annisa, berjalan lancar. Masing-masing kandidat memaparkan secara lugas. Pertanyaan-pertanyaan dari moderator yang berusaha mengulik kesaktian kandidat dapat dijawab dengan baik oleh ketiga kandidat. Sayangnya hal ini tidak dimanfaatkan secara baik oleh para siswa sebagai referensi ketika menentukan pilihan nanti. “Mereka lebih asyik dengan dunianya sendiri, “ tutur Bu Zahzahah, salah satu guru BK yang mengikuti acara itu.
Setelah masa tenang 13 hari, sampailah hari pencoblosan, yakni Rabu 24 Oktober 2018 pukul 14.30 – 15.30 WIB. Para guru dan siswa menyalurkan aspirasinya di Ruang Komputer melalui aplikasi komputer yang sudah dirancang oleh PMK. Hanya perlu waktu sekitar 2 menit, para pemilih sudah bisa menyalurkan aspirasinya, memilih jago yang diusungnya.

Pukul 16.00 WIB, bertempat di Ruang Aula Smada yang dihadiri oleh 2 siswa perwakilan setiap kelas dan para Pembina OSIS, MPK sebagai Komisi Pemilos menyampaikan hasil pemungutan suara. Dari hasil hitung cepat komputer hasilnya: Anandhito Herza Putra memeroleh 565 suara atau 70.10%; Cendana Putri Aista Wardany memeroleh 44 suara atau 5.46%;  dan Aida Fitri Andriani mendapat 54 suara atau 6.70%. Yang cukup memprihatinkan adalah ternyata suara golput di Pemilos Smada 2018 ini cukup tinggi, yakni 143 pemilih atau 17.74%. Jumlah ini melebihi jumlah suara gabungan kandidat nomor 2 dan 3. Hal ini tentu menjadi PR besar bagi semua guru dan Pengurus OSIS terpilih. Jangan sampai mereka yang jumlahnya cukup besar ini menjadi batu sandungan pengurus OSIS terpilih.
Segenap keluarga besar Smada perlu memberikan apresiasi kepada kinerja MPK sebagai penyelenggara Pemilos yang telah melaksanakan Pemilos 2018 dengan sukses. Pun demikian penghargaan dan apresiasi juga perlu diberikan kepada Pengurus OSIS 2017/2018 yang telah berjibaku menakhodai perahu OSIS Smada dengan segala banyak kelebihan dan sedikit kekurangannya.
Sekarang saatnya semua keluarga besar Smada, baik yang memilih maupun yang tidak memilih, untuk mengulurkan tangan, menyambut dengan mesra sang Ketua OSIS baru. Semua mesti berjalin tangan dalam satu gerbong visi dan tindakan yang sama sehingga mimpi Smada menjadi sekolah yang melesat, maju, jaya, berkah dunia akhirat dapat tercapai. 

Akhirnya, terima kasih dan selamat jalan Kang Iqbal Dzaky beserta jajarannya dan selamat datang Mas Anandhito Herza Putra dan pasukannya. Terus, terus maju berikan yang terbaik buat almamatermu.

KISI-KISI US 2022

      Bijak Menyikapi Kisi-Kisi                                                             (oleh Sartono Jaya)           A lhamdulill...