Rabu, 20 Mei 2015

MENGINDRA SEBUAH OBOR



Semangat Pagi, Bro!

Semoga Gusti Allah, Tuhan yang Mahakuasa, selalu melimpahkan keselamatan dan keberkahan pada kita semua. Amin. Hidup adalah sebuah siklus yang selalu berulang. Pagi datang, belajar, ngrasani guru yang galak, mengerjakan ulangan, tugas, menghitung bunyi bel, dan pulang. Demikian selalu berulang.
Ulangan apa pun namanya, ya sebenarnya sebuah aktivitas mengULANG. Dengan begitu, hal itu tidak perlu ditakuti seperti memedi atau gendruwo. Sebaliknya, kita justru harus merinduinya. Ya, anggap saja seperti bertemu dengan si Ahmed. Ngangeni! Bagaimana tidak ngangeni? Terus terang, lelaki ini penuh pesona; tulisannya rapi, kelakukan dan omongannya pas. Santun, gitu lho! Atau bertemu Dija Munarifa, si lincah enerjik yang punya semboyan: hidup harus berMANFAAT. Intinya: kita tidak perlu TAKUT dengan ulangan. Sikapi dan hadapi dengan biasa.
Kembali ke masalah ulangan. Berikut ini akan saya berikan rambu-rambu sebagai panduan agar para siswa tidak kesasar atau salah jalan. Ya, mungkin ini bisa dikatakan sebagai semacam kompas, bukan merupakan bocoran. Sebab, pembocoran merupakan perbuatan ilegal. Harapan saya setelah suluh ini saya ekspos, siswa segera mengantisipasinya dengan cerdas. Segera berbenah, memperbanyak taklim, mengumpulkan segala kedigdayaan untuk menghadapi ulangan itu. Oleh karena itu, sebenarnya aneh setelah kabar ini disebar, pada saat hari H, banyak siswa yang berbuat tidak senonoh. Tengak kanan kiri, mencari bantuan jawaban. Sungguh seperti ENTUNG!
Dengan berbagai fasilitas yang ada sekarang ini, silakan para siswa bertukar pikiran mengenai berbagai materi yang belum atau kurang dipahami. Saya sangat senang jika banyak siswa yang bertanya. Tentu saja tentang berbagai hal yang bergayutan dengan pelajaran, bukan masalah perdukunan, perjodohan, atau masalah akik yang lagi boming. OK, sembari mengingatkan tugas-tugas Anda yang belum lunas, tolong DILUNASI, Selamat mencermati menu berikut ini.
Teks laporan hasil observasi. Yang harus Anda penthelengi dari materi ini adalah: (1) sruktur teks, (2) karakteristik teks, (3) ide/topik paragraf teks, (4) konjungsi intrakalimat, antarkalimat, (5) konjungsi koordinatif, konjungsi subordinatif, (6) kata baku, tidak baku, (7) kalimat simpleks, kalimat kompleks, (8) kelas kata: nomina, verba, adjektiva, adverbia, numeralia, (9) nomina penjenis, nomina pendeskripsi, (10) verba material, verba tingkah laku, (11) sinonim, antonim.
Berikutnya adalah teks eksposisi. Antisipasi yang perlu siswa lakukan dalam hal ini antara lain: (1) struktur teks, (2) konjungsi antarparagraf, (3) pronomina persona, (4) kalimat simpleks, kompleks.
Anekdot. Di sini, siswa mesti mewaspadai: (1) struktur teks, (2) karakteristik teks, (3) sudut pandang penceritaan, (4) unsur intrinsik teks anekdot, (5) amanat teks, (6) konjungsi temporal.
Materi selanjutnya yakni teks prosedur kompleks. Jurus yang harus Anda siapkan adalah: (1) struktur teks, (2) karakteristik teks (pronomina, deklaratif, imperatif, interogatif), (3) konjungsi menyatakan hubungan syarat, akibat, tujuan, (4) verba tingkah laku, verba material, (5) kata acuan (ini, itu).
Paling pungkas adalah materi teks negosiasi. Di materi ini silakan Anda mengaji lagi tentang (1) struktur teksnya, (2) kaidah/karakteristik teks (kalimat persetujuan/penolakan, kalimat santun).
Sebelum pamit, saya wanti-wanti juga supaya Anda mengulang atau membaca-baca lagi tentang menulis judul teks (karangan) berdasarkan tema yang disediakan. Selain itu, siapkan pula menulis paragraf, misalnya deskripsi atau eksposis. Tak kalah pentingnya Anda perlu, bahkan wajib baca pantun. Itu lho puisi lama yang jumlah barisnya 4, bersajak akhir ab, ab, dengan jumlah suku kata 8 – 12 suku kata.
Akhirnya,
Beli telur di rumah Mas Ferdi
Dapat korting dan hadiah buku
Kalau Anda ingin terhindar remidi
Jangan malas trus membaca buku

Cari permata di Gunung Tidar
Mendapat batu pancawarna
Kalau siswa rajin belajar
Nilai baik tak akan ke mana



Selasa, 12 Mei 2015

TUGAS NONICA X IPA1



Magelang, 12 Mei 2015
Hal        : Penawaran

Yth. Ibu Hj. Nonica Hadija Munawaroh
Jalan Mangun Sarkoro 26
Semarang

Assalamualaikum wr. wb.,
Dengan surat ini saya mengajak  Saudara untuk bekerja sama. Saya mempunyai usaha produksi kain batik tulis khas Magelang yang berkualitas  dengan harga super murah.

Saya sangat berharap Saudara tertarik dan mengajukan penawaran. Saya akan memberikan potongan harga yang menarik apabila Saudara membeli lebih dari tiga ratus potong.

Demikian surat penawaran saya. Saya berharap kita dapat segera merealisasikan kerja sama ini.
Wassalamualaikum wr. wb.


Hormat saya,

Haji Abu Mansyur Al-Hallaj


Tugas untuk Nonica X IPA 1 à Buatlah jawaban surat penawaran ini. Tugas Anda bisa Anda kerjakan di komentar atau di blog Anda! (SMS kalau Anda sudah selesai mengerjakan!).

Minggu, 03 Mei 2015



MEMAKNAI PERINGATAN  HARI KARTINI
(Oleh Sartono Jaya)
Sabtu, 2 Mei 2015, keluarga besar SMAN 2 Magelang melaksanakan upacara hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas. Ada yang berbeda pada upacara kali ini. Hampir semua peserta mengenakan busana daerah. “Ya, ada nuansa warna-warni kali ini karena kami sekaligus memperingati hari Kartini, “kata beberapa siswa.
Rasanya pas sekali memperingati hari Kartini pada momen Hardiknas ini. Sebab, Kartini selain dikenal sebagai pejuang kesetaraan gender, ia sejatinya juga merupakan tokoh pendidikan. Dari pemikiran-pemikiran beliaulah kemudian lahir embrio-embrio pengajaran perempuan di Jawa dan meluas ke Nusantara.

Fenomena Kartinian
Fenomena yang muncul kini adalah tiap tanggal 21 April selalu kita peringati sebagai hari Kartini. Di berbagai lapisan masyarakat, terutama di sekolah-sekolah nuansa itu begitu terasa. Bahkan, kini acara itu telah mulai merambah ke berbagai kantor, terutama kantor pemerintah. Hari Kartini selalu diperingati dengan simbol-simbol kewanitaan, seperti parade baju daerah, lomba memasak, lomba busana, lomba merias. Hari Kartini identik dengan pakaian daerah. Jadinya,  peringatan hari Kartini hanya terbatas pada seremoni, tanpa menyentuh aspek hakiki tentang makna emansipasi wanita.
Peringatan hari Kartini yang sepertinya akan turun-temurun seperti sekarang ini, tentu boleh-boleh saja. Tidak ada yang melarang. Bagi saya memperingati hari Kartini tidak harus demikian. Ada yang jauh lebih penting dari itu, yakni mengejawantahkan pikiran-pikiran Kartini. Kartini adalah pemikir revolusioner. Visinya jauh ke depan. Jadi, bagi saya Kartini jauh dari primordial. Hal itu dapat dibaca pada tulisan-tulisan Kartini, terutama setelah beliau berguru kepada Kyai Sholeh Darat dari Semarang.  Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti “dari gelap kepada cahaya”. Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat "Dari Gelap kepada Cahaya” yang kemudian oleh E.E. Abendanon, sahabatnya di Belanda, dikumpulkan menjadi Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Sebuah Renungan
Oleh karena itu, patut kita merenung: mana yang lebih penting memperingati hari Kartini dengan berpakaian kedaerahan atau membangun sebuah pemikiran lain untuk mengimplementasikan gagasan-gagasan Kartini dalam kehidupan nyata. Misalnya, meratakan akses pendidikan bagi kaum wanita, meningkatkan akses pelayanan kesehatan bagi kaum wanita, memperbaiki akses dalam pemerolehan pekerjaan. Hal tersebut jauh lebih penting daripada sekadar seremonial.
Kita baru saja terhentak dengan kasus kematian Selvina Amelia Agustina, mahasiswi asal Lampung. Dia harus meregang nyawa pascamelahirkan di kosnya tanpa ditemani oleh seorang pun. Juga kasus tewasnya Deudeuh Tata Chubby di kamar kosnya, di Jakarta, yang dilakukan oleh lelaki pengguna jasanya. Semua itu mewartakan bahwa kita masih menempatkan perempuan sebagai subordinat, sebagai objek yang diperlakukan semena-mena.
Oleh karena itu, mari kita memperingati hari Kartini dengan tindakan nyata. Kita muliakan, kita beri ruang yang layak dan bermartabat bagi perempuan. Dengan demikian, adalah keliru besar memperingati Kartini hanya sebatas seremoni berbusana. Lebih-lebih akhwat-akhwat yang sudah berhijab rela menanggalkan hijabnya. Insa Allah, Kartini suka perempuan yang berhijab, yang tetap berpegang teguh pada akidahnya.




Senin, 06 April 2015

LAPORAN PERJALANAN



KUNJUNGAN WISATA KE BALI

(oleh Hadija Alia Majida)

Kisah Perjalanan 
Sabtu, 28 Maret 2015, siswa kelas XI SMAN 2 Magelang mengadakan studi budaya ke Pulau Bali. Acara ini merupakan agenda tahunan OSIS SMAN 2 Magelang. Studi budaya ke Bali kali ini diikuti oleh mayoritas siswa kelas XI. Pada tahun ini, peserta yang ikut ada 208 siswa dan 15 guru pendamping.
Tujuan kegiatan ini adalah belajar budaya yang ada di Bali. Mungkin kalau mau studi sampah, cukup di kelas-kelas saja. Dijamin pasti ada barangnya di setiap kelas. Jadi, murah, meriah, dan tepat sasaran.
Rombongan ke Bali dibagi ke dalam lima bus, bus A, B, C, D, dan E. Setiap bus diisi rata-rata 43 siswa dan 3 pendamping dari guru. Kami meninggalkan sekolah pukul 07.30 WIB. Bus bergerak ke utara melewati Bawen, Salatiga, Solo, dan seterusnya. Hampir semua peserta bergembira, kecuali yang sangunya super mepet. Selepas dari Bawen, beberapa anak yang terbiasa naik andong, mulai menampakkan keasliannya. Mereka mulai pusing, bahkan beberapa di antaranya “hoak”.
Pukul 13.30, rombongan “break part 1” di rumah makan Ngawi, Jawa Timur. Setelah makan, salat, dan sejenak meluruskan kaki yang super pegel, rombongan segera melanjutkan perjalanan. Kami memasuki Kota Probolingga pukul 19.30. Kami istirahat di restoran Bromo untuk mengisi perut yang sudah menagih jatah, di samping tentunya kewajiban salat. Pukul 02.00 WIB dini hari, rombongan telah tiba di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, dan siap menyeberang ke Pelabuhan Gilimanuk. Karena pelabuhan dalam keadaan ramai, rombongan harus antre menyeberang. Kami terombang-ambing di dalam feri di tengah selat. Akhirnya, banyak di antara kami yang harus melaksanakan salat subuh di atas kapal feri. Bagaimana rasa salat subuh di atas feri? Rasanya penuh sensasi, terutama saat berdiri. Wiih bergoyang-goyang serasa mau jungkir ketika itidal.
Lepas dari Gilimanuk, rombongan kami segera menyusuri Pulau Bali. Dari sinilah sebenarnya wisata budaya itu dimulai. Masya Allah, mungkin benar Bali ini adalah Pulau Seribu Pura. Sebab, di sepanjang jalan yang kami lewati bisa dijumpai pura di hampir setiap rumah. Mirip dengan kota kami, NEGERI SEJUTA BUNGA. Jadi, kalau Anda ke Magelang pasti Anda akan menemui bunga.  Bahkan, mungkin karena terlalu subur tanahnya, di negeri SEJUTA BUNGA ini banyak pula tumbuh bunga plastik di pinggir jalan.
Kembali ke perjalanan, menjelang pukul 07.30 kami transit di rumah makan Soka Indah, Denpasar. Peserta segera berhamburan menyerbu kamar mandi. Setelah menyelesaikan hajat, kami segera memulihkan stamina dengan makan. Tujuannya supaya kami survival melakukan studi budaya di negeri para dewa ini.

Kunjungan ke Objek Wisata
1.      Danau Bedugul dan Jogger
Objek wisata yang pertama kami kunjungi adalah Danau Bedugul.  Sebuah danau di atas pegunungan. Masya Allah, tempatnya luar biasa. Sebuah lembah tandon air alami di atas bukit dijaga pura-pura megah di

sekelilingnya. Sungguh indah memesona. Setelah menuntaskan kekaguman di Bedugul, rombongan kami segera menuju ke Jogger. Ya, Jogger adalah pasar kata-kata yang menempel di berbagai produk. Ada kaos, kemeja, tas, sandal, dsb. Jogger adalah sihir bagi pengunjung untuk menghamburkan uangnya. Hanya orang yang super perhitungan dan yang nggak punya duit saja yang datang ke sini tidak berbelanjaa ria.
Nampang di Depan Hotel
Selepas dari Joger, rombongan kami menuju hotel. Waktu sudah sore, mendekati pukul 16.00 WIT. Satu setengah jam perjalanan dari Jogger, kami sampai di hotel. Luar biasa, kami harus menyesuaikan diri jadi orang modern: menggunakan card untuk naik tangga dan masuk kamar. Masuk ke dalam kamar membuat kami semakin ndeso dan culun. Sebuah kamar tidur yang tertata rapi dengan pelapis putih bersih menunggu di depan kami. Ya, pokoknya masuk di hotel, kami menjadi semakin inferior.
2.      Wisata Pantai dan Garuda Wisnu Kencana
Esoknya, kami sudah harus siap menyusuri keindahan negeri para dewa ini. Kali ini buruan kami adalah serbabasah, wisata pantai. Tempat pertama adalah Pantai Kuta, dilanjutkan ke Tanjung Benua, ke Pantai Pendawa, dan berakhir di Garuda Wisnu Kencana. Pantai Kuta adalah trade mark-nya Bali yang sudah kesohor ke seluruh dunia. Di pantai ini pemandangannya cukup eksotis. Banyak turis yang mekong dan mesu di sini. Karenanya, di samping kami berdecak kagum atas keindahan Kuta, kami juga terus beristighfar untuk mengurangi dosa mata kami. Bahkan di antara kami banyak yang menggunakan kacamata hitam supaya kalau melihat hal-hal yang woow jadi ah biasa, atau paling tidak dosanya tertinggal nempel di kacamata. Tanjung Benua merupakan wisata pantai. Aneka permainan khas pantai, seperti banana air, jet air, dan
melancong dengan kapal kecil ke Tanjung Benoa bisa dinikmati wisatawan di sini. Selepas tengah hari, kami tinggalkan Tanjung Beno untuk menuju Pantai Pandawa. Disebut Pantai Pandawa karena di tebing pantai, berjajar patung pandawa: Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sahadewa. Pantainya indah hampir mirip dengan Kuta. Di sini pun banyak bule yang bermandi ria.



Mendekati magrib rombongan kami sudah merapat ke Garuda Wisnu Kencana (GWK). Menu yang  kami nikmati di sini adalah pertunjukan tari Garuda Wisnu yang digelar di teater terbuka dan tari kreasi yang dimainkan tepat di depan patung kepala Dewa Wisnu. Menyaksikan pertunjukan tari sembari menikmati panorama indah belahan batu cadas raksasa eksotik adalah sesuatu yang luar biasa, subhanallah.





3.      Wisata Hari Terakhir
Menu wisata hari pamungkas kami adalah mengunjungi pertunjukan Tari Barong, Pasar Krisna, dan Pasar Sukawati. Menikmati pertunjukan Tari Barong tak ubahnya menonton adegan “goro-goro” dalam wayang Jawa. Pertunjukan dikemas penuh banyolan ala adegan ponokawan dalam “goro-goro”. Jadi, meskipun sebenarnya mengusung cerita pakem, penyajiannya tetap komunikatif melibatkan penonton.
Selepas dari menikmati pertunjukan barong, kami langsung menuju Pasar Krisna dan Sukawati. Kedua tempat ini merupakan tempat untuk memenuhi dahaga belanja, terutama buah tangan baju, kaos. Ya bisa dikatakan murah memang belanja di sini, terutama bagi yang pandai menaawar. Akan tetapi, bagi orang yang tak pandai bernegosiasi dijamin bakal buntung di sini alias menjadi makanan empuk pedagang.
Setelah puas memburu oleh-oleh di kedua pasar ini, rombongan segera menuju ke Pelabuhan Gilimanuk dan menyeberang untuk kembali ke Magelang. Kami pulang dengan seribu kesan yang akan kami simpan di memori kami. Entah sampai kapan.

Jumat, 27 Maret 2015

MENULIS LAPORAN HASIL PERJALANAN/KUNJUNGAN

Laporan Perjalanan
Tugas siswa kelas X IPA 1, IPA 2, IPA 3, dan IPA 4 kali ini adalah membuat tulisan ringan laporan perjalanan. Perjalanan yang harus Anda laporkan adalah "Perjalanan Pendidikan Luar Sekolah (PLS)" yang Anda lakukan pada Kamis, 27 Maret 2015. Isi laporan meliputi unsur 5 W + 1 H. Laporan bisa disusun kronologis dari berangkat, di perjalanan, kegiatan di lokasi, hingga Anda meninggalkan lokasi. Laporan dapat juga disusun hanya memfokuskan pada beberapa lokasi kunjungan. Untuk menguatkan apa yang Anda laporkan sebaiknya Anda sertakan foto-foto pendukung. Misalnya, Anda melaporkan aktivitas produksi pabrik X. Maka, selain deskripsi tentang aktivitas produksi pabrik X, foto-foto tentang karyawan pabrik yang sedang bekerja/memproduksi akan sangat mendukung laporan Anda. Laporan Anda kerjakan di kertas HVS, kemudian unggah ke blog Anda masing-masing. Tanggal 1 April 2015 merupakan batas akhir unggah di blog.
Contoh:

Laporan Kunjungan ke Museum Fatahillah
(oleh Zanuba Artamieva Fadhila)
Pada hari minggu kuturut ayah pergi ke kota. Aku naik delman istimewa. Aku duduk di muka di samping Pak Kusir yang gantengnya seperti Zyan Malik, si personel One Direction. Driverku sangat terampil mengendalikan kuda hingga “pesawat” yang kami tumpangi berjalan nyaman.
45 menit semenjak keberangkatan, tepatnya pukul 08.30 WIB, “pesawat” yang kami tumpangi sudah mendarat di depan Museum Fatahillah. Aku, ayah, dan adikku si ceriwis Dhila, turun dari delman. Kami bertiga segera menuju ke bagian loket masuk. Pagi itu belum terjadi antrean. Hanya ada beberapa pengunjung lain yang segera membuntuti di belakang kami.
…. (Deskripsi tiap bagian yang Anda kunjungsi)

Pukul 13.05 menit setelah menunaikan salat zuhur di masjid area museum, kami meninggalkan Museum Fatahillah. … . 

Kamis, 12 Maret 2015


GADIS TERMANGU DI DEPAN PINTU
(tugas menulis cerpen prosedur kompleks)

Tidak seperti biasanya, pagi itu Hadija Munarifah datang terlambat. Bercak-bercak darah di bajunya masih basah. Belum kering penuh. Gadis lincah berkerudung lebar itu hanya berdiri terpaku di depan pintu kelas. Antara masuk dan tidak. Degup jantungnya mulai tak teratur. Pikirannya menerawang jauh.
“Nduk, jadi perempuan itu memang beda dengan lelaki. Perempuan harus 10 x lebih kuat daripada laki-laki, “nasihat ibunya sambil merapikan kamar tidur Dija yang agak berantakan.
“Enak dong kalo begitu jadi laki-laki, “jawab Dija, setengah protes.
“Ya, nggak, begitu! Kita harus terima takdir kita masing-masing. Kelak kamu akan tahu sendiri. Ayo sekarang rapikan kamarmu. Terus ke belakang. Ibu tunggu di pesolatan ya?” kata Bu Nurul sambil meninggalkan Dija yang masih malas-malasan.
Dija segera bergegas menuju ke kamar mandi. Tak lama ia sudah menyusul ibunya di pesolatan.
“Ibu, Ibu, kau ini aneh. Semua komandomu harus kuikuti. Pokoknya seperti rezim otoriter. Ibuku telah membuat sederet menu yang kadang-kadang tidak masuk di akalku. Aku tidak boleh bangun kalah dengan kokok ayam jago. Setiap hari bakda magrib, aku harus setor bacaan minimal 1 halaman. One day, one page to read holy Quran, kecuali pas tamuku datang. Yang lain? O masih banyak. Yang kadang aku gondok, tak satu pun aku boleh menawar. Pernah sekali waktu itu aku membantah. Sebenarnya tidak membantah sih, cuma tidak segera melaksanakan yang ibu maui. Terus ibuku ceramah panjang. Ya  panjang sekali, mirip teks prosedur kompleks yang diajarkan guruku. Tentang guruku ini juga aneh, bahkan sableng. Aneh, sebab kalau ngajar menggunakan jurus mabuk. Sering melompat-lompat, dari bicara materi pelajaran tiba-tiba loncat ke Liga Inggris, Bareskrim, Kapolri, KPK, kemudian ke artis Syahrini. Bagi dia, apa saja bisa disangkutkan dengan pelajaran. Akibatnya, sering membuat siswa nggak jelas. Terutama siswa seperti aku yang pasif mengonsumsi informasi dari dunia luar.  Makanya, aku lebih senang menyebut dia, Pak Gaje, “batin Dija.
 “Rabbana hablanaa min azwajinaa wadzurriyaatinaa qurrata a’yun waja’alnaa limuttaqiina imaamaan, amiin.” Larikan kata-kata itu selalu Dija dengar meluncur dari mulut ibunya sehabis salat. Bahkan kata-kata itu sering ibunya senandungkan tatkala menemaninya tidur.
“Bu, Dija, pamit ya! Tolong pamitkan bapak juga, daa, assalamualikum, “pamit Dija disertai lambaikan tangan setelah mencium tangan ibunya.
“Beres Tuan Putri, waalaikumsalam warahmatullah, hati-hati cah ayu!” balas ibunya sambil masuk ke rumah.
Pukul 06.30 WIB, Dija Munarifah turun dari angkot yang membawanya. “Alhamdulillah. Ayo jalan kaki supaya sehat, “ batin Dija menghibur diri. Baru satu langkah ia menyeberang. “Braaakk!” Sebuah suara benturan disertai jeritan kesakitan seorang anak kecil tepat di depan matanya. “Astaghfirullaah, innalillaahi!” spontan Dija setengah teriak sambil menutupi mulutnya. Dija segera berlari menuju ke seorang perempun kecil yang terpental di pinggir jalan seberang. Sang pengendara motor tancap gas tak mempedulikannya.
“Ya, Allah, kamu berdarah Dik, “Dija merengkuh si perempuan kecil itu membopongnya ke tepi jalan yang aman. Ia keluarkan sapu tangannya. Ia bersihkan dan tutup darah yang menetes dari kening perempuan kecil itu. Lima menit kemudian puluhan orang sudah mengerumuni tempat kejadian. Orang-orang kampung pun keluar.
“We ladalah, ada kecelakaan. Ada anak sekolah kecelakaan!” teriak beberapa warga.
“Ayo kita angkat dan bawa ke rumah Pak Zidan di sebelah jalan itu, “pinta salah seorang.”
“Hati-hati mengangkatnya, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa, “seru yang lainnya.
“Ada yang penyok gak?” sambung yang lainnya, “aduh kepalanya berdarah, mungkin pecah.”
“Hus, gundulmu amoh, jaga mulutmu! Jangan sembarangan kalau ngomong.”
 “He, perempuan! Kamu yang nabrak anak kecil ini ya? Kamu harus bertanggung jawab!” sebuah suara agak keras meluncur dari seorang pemuda sambil menunjuk Dija.
“Saya?” jawab Dija bingung.
“Ya, kamu! Siapa lagi?” itu bajumu belepotan darah, “berarti kamu pelakunya.”
Orang-orang mulai berdiri terprovokasi. Suasana menjadi tegang. Semua mata menatap Dija, gadis berkerudung lebar yang belepotan darah.
“Untung orang-orang sini baik-baik, Mbak. Kalau di kampung lain kamu sudah dibakar massa, lho,” kata lelaki itu agak meninggi.
Dija bangkit berdiri melepaskan rengkuhannya dari gadis cilik yang tak berdaya. Sorot matanya tajam menatap lelaki yang telah menohok batas kesabarannya.
“Mas menuduh saya penyebab perempuan ini begini, “kata Dija gemetar menahan marah, “Mas, salah.”
“Alaah, ngeles kamu! Mana ada di negeri ini orang salah  ngaku. Kalau ada itu pasti di cerita atau di sinetron saja. Akui saja, saya yakin orang-orang di sini nggak akan macam-macam sama kamu. Ya, asal tanggung jawab. Sudah selesai.”
“Tidak, Mas. Bukan saya penyebabnya. Masalah tanggung jawab, nggak usah diminta-minta. Perlu Mas tahu ya, pertama kali yang membobongnya ke tepi jalan siapa, Mas? Kedua, itu sapu tangan penuh darah yang masih menempel di kening si kecil, itu milik siapa, Mas? Lalu, yang ikut ngangkat bareng-bareng bersama orang-orang ini dari tepi jalan ke teras rumah ini siapa?”
“Mbak, ja… jangan tinggalkan  aa… aku, Mbak, “suara mengiba terdengar dari mulut gadis kecil. Semua mata dan perhatian tertuju pada suara si kecil. Dija Munarifah spontan merengkuh si gadis kecil. Suasana hening. Diam.
“Assalamualaikum, Cantik! Kamu terlambat ya?” sapa lelaki paruh baya mengagetkan Dija.
“Waalaikumsalam warahmatullaah, ei, Bapak, “jawab Dija sambil membuat isyarat dengan telunjuk jari kirinya ditempelkan di mulut.
“Kenapa nggak masuk, Mbak?” kata lelaki itu.
“Bapak, jangan keras-keras! Nanti Pak Guru yang di dalam dengar.”
“Nggak apa-apa, sekarang kan jam pelajaran saya.”
“Lho, bukannya sekarang MATEMATIKA, Pak?” tanya Dija masih tak percaya.
“Kan ganti jadwal lagi, “jawab lelaki itu sambil masuk kelas diikuti Dija Munarifah.
Sartono Jaya, Wates Magelang, Maret 2015
#selesai#


  





KISI-KISI US 2022

      Bijak Menyikapi Kisi-Kisi                                                             (oleh Sartono Jaya)           A lhamdulill...