Jumat, 22 Agustus 2014

Selamat Datang Presiden Baru



Usai sudah hiruk-pikuk Pemilu Presiden 2014. Setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Juli 2014 menetapkan pasangan Jokowi – JK sebagai pemenang pilpres 2014, Mahkamah Konstitusi (MK) pada 21 Agustus 2014  juga menolak gugatan hasil pemilu pasangan Prabowo – Hatta. Jadi, legalitas Jokowi – JK sebagai presiden Indonesia ketujuh sudah tidak diragukan lagi dan harus diterima oleh seluruh rakyat Indonesia.
Sekarang tugas berat dan mulia sudah menanti Presiden Jokowi – JK. Mereka harus memenuhi semua (baca: sebagaian besar) janjinya saat kampanye. Janji perubahan yang mereka usung dalam visi Trisakti, yakni jalan perubahan untuk Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian.
Tidak mudah untuk mewujudkan visi Trisakti tersebut karena kompleksitas permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Permasalahan yang bisa mengganjal langkah Jokowi – JK untuk merealisasikan janji kampanyenya adalah APBN. APBN yang harus Jokowi – JK laksanakan adalah produk pemerintahan lama yang tentu saja berbeda dengan keinginan pemerintahan baru. Dalam APBN 2014 produk pemerintahan SBY, anggaran pemerintah hanya habis untuk subsidi nonproduktif, yaitu BBM.
Namun, kita tetap harus optimis bahwa harapan akan terwujudnya pemerintahan baru yang memenuhi ekspektasi masyarakat Indonesia tetap dapat terpenuhi.  Syaratnya, kita bersatu padu, bahu membahu, holopis kuntul baris melupakan segala perbedaan. Tidak ada lagi jari satu, jari dua, jari tiga, yang ada adalah jari 270 juta rakyat Indonesia untuk bekerja menciptakan perubahan. Yang terpenting lagi: rakyat butuh pemimpin yang tulus memberi contoh, bukan yang memerintah tetapi tidak mengerjakan. Insya Allah itu ada pada Jokowi – JK.

Selasa, 05 Agustus 2014

Lebaran 2014





TRADISI  BERBAGI DI MOMEN IDUL FITRI

Wates, 1Syawal 2014. Tepat pukul 17. 37 WIB, beduk magrib ditabuh dan azan magrib pun dikumandangkan. Umat Islam di seluruh Wates bersukacita. Mereka larut dalam kegembiraan karena telah telah kembali kepada kefitrian setelah selesai melaksanakan puasa Ramadan selama  satu bulan.
Usai melaksanakan salat magrib berjamaah di Masjid Sirajul Huda Wates, jamaah tidak beranjak pulang. Mereka melantunkan kalimat takbir, tahlil, dan tahmid. Lantunan takbir, tahlil, dan tahmid baru berhenti ketika waktu memasuki salat isya. Selesai salat isya, sebagaian jamaah yang tua-tua melanjutkan takbiran, sementara jamaah remaja dan anak-anak melakukan pawai obor keliling kampung.
Kira-kira pukul 21.00 WIB setelah selesai pawai obor, biasanya masyarakat akan kembali ke rumah masing-masing. Mereka melakukan tradisi sungkeman keluarga dan sekadar bagi-bagi kenangan dari yang tua kepada yang muda. Bagi masyarakat Wates, melakukan sungkeman pada malam 1 Syawal merupakan tradisi wajib dilakukan. Sebab, mereka meyakini bahwa keluarga atau orang tua adalah nomor satu. Jadi, sebelum mereka bermaaf-maafan ke ketangga-tetangga, mereka harus terlebih dahulu saling memaafkan di lingkungan intern keluarganya.
Acara sungkeman keluarga biasanya didahului dengan takbiran, kemudian mendoakan arwah leluhur mereka berupa bacaan tahlil yang dipimpin oleh orang yang paling tua dalam keluarga tersebut. Setelah itu baru dilaksanakan acara sungkeman. Di sinilah biasanya terjadi suasana haru. Banyak di antara mereka yang menangis karena tulus mengakui dan meminta maaf.

Sebagai penutup acara sungkeman adalah berbagi kenangan. Acara ini disebut “andum sangu”, yakni yang tua atau yang sudah bekerja memberi kenangan atau sangu kepada yang muda. Dengan “andum sangu” inilah kedekatan keluarga semakin terjalin dan kasih sayang semakin menyubur di dalam keluarga.

Senin, 28 Juli 2014

Blog Lebaran

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga kita melaksanakan ibadah puasa Ramadan dengan segala plus minusnya. Itu semua terasa wajar karena kita masing-masing star dari  "makam" yang berbeda. Ada yang berangkat dari tataran cantrik, ada yang berangkat dari tingkatan ustad. Namun demikian, semua kini merasa plong. Sebab, darimana pun makamnya, kita sangat berharap sudah menjadi manusia yang berbeda. Kalaupun belum dikatakan fitri, ya paling tidak sudah sedikit berkurang belepotan dosanya.

Sekarang tinggal hubungan antarsesama manusia yang perlu diselesaikan. Saya yakin selama kita berteman, bertetangga, berhubungan (guru-siswa) tentu banyak kekeliruan baik yang sebenarnya disengaja untuk tujuan baik ataupun yang tidak disengaja, tetapi telanjur menusuk perasaan. Untuk itu, pada moment ini kita wajib saling memaafkan. Dengan begitu, inshaAllah sebagai manusia kita akan mencapai keseimbangan: di hadapan Tuhan dosa kita diampuni, minimal dikurangi; di hadapan sesama manusia sudah mencapai titik zero. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.



Rabu, 23 April 2014

Perbandingan Teks

Membaca dua teks yang berbeda
Teks 1
Siswa ada bermacam-macam. Namun, secara garis besar ia dapat diklasifikasikan menjadi dua dua kategori. Ada siswa laki-laki, ada siswa perempuan. Ada siswa baik, ada siswa tidak baik. Ada siswa kota, ada siswa luar kota. Ada siswa tipe trio wek-wek, ada siswa tipe pendiam. Ada siswa yang syukur nikmat, ada yang kufur nikmat.

Teks 2
Tahukah kamu siswa yang syukur nikmat dan kufur nikmat itu?
Siswa dikatakan syukur nikmat apabila mereka menerima nikmat, pemberian, fasilitas dari Allah, mereka mensyukurinya, berterima kasih atas pemberian itu. Perwujudan rasa terima kasih itu bisa bermacam-macam. Yang paling kecil bisa berupa ucapan, misalnya alhmdulillah, puji Tuhan, dan sebagainya. Hal itu dapat juga dimanifestasikan dalam bentuk tindakan, misalnya sujud syukur, ramai-ramai mendatangi gurunya untuk berterima kasih, mengadakan selamatan, tumpengan, dan sebagainya.

Sebaliknya, disebut kufur nikmat apabila mereka mengingkari nikmat itu. Artinya, mereka tidak menganggap adanya nikmat itu. Salah satu makna “kufur” adalah menghapus. Jadi, si orang yang diberi nikmat telah menghapus atau menganggap hal itu tidak ada. Oleh karena itu, golongan ini biasanya ketika diberi kenikmatan tidak mewujudkannya dalam bentuk-bentuk perilaku yang transedental. Akan tetapi, hanya kenikmatan duniawi semata sehingga terkesan hura-hura, wah-wahan, dan sebagainya.




ANEKDOT

MULUTMU!




Selasa legi, 7 Maret tahun 2007, tepat pukul 07.00, Birman dipanggil Tuhan. Orang-orang datang melayat, memberi penghormatan terakhir bagi Birman sebelum dia diantar ke kampung kehormatan.

Orang-orang tidak mengira, Birman yang muda dan ganteng itu mati muda. Padahal embahnya yang sudah berumur 92 tahun masih bugar. “Kasihan dia, belum kawin sudah meninggal, “celetuk seorang teman almarhum.
“Apa hubungannya antara kawin dengan mati muda?” tanya Oghi sambil berbisik-bisik.
“Hus bego amat kamu! Ya, jelas belum merasakan surga dunia, “ jawab temannya sambil mendekatkan jari telunjuk di depan mulutnya.

Tepat pukul 13.00, jenazah Birman siap diberangkatkan. Upacara pemberangkatan pun dimulai. Pak modin maju menuju sound. “Para pelayat semuanya yang saya hormati, untuk terakhir kalinya saya minta kesaksian apakah semasa hidupnya Birman ini baik atau baik? Sampai diulang tiga kali, yang langsung ditimpali sebagian besar pelayat dengan koor “baiikk”. Hanya teman-teman almarhum sendiri yang kelihatan kurang percaya.

Jenazah dimasukkan ke liang lahat dan dan semua pelayat pulang.
“Jeddaar!” Malaikat penjaga kubur datang menghentakkan kakinya. sambil bertanya “man rabbuka?”
Birman kaget seketika dan dari mulutnya ceplos “… “. Tiba-tiba teriakan kesakitan melingking panjang keluar dari mulut Birman. Malaikat baru saja memukulkan gada sebesar pohon pisang ke dada Birman. Birman yang telah tak berbentuk menyembah-nyembah malaikat.
“Aduuuuh, ampuuun! Maafkan hamba. Kemudian malaikat mengajukan pertanyaan lagi sambil menggertak “Man nabiyuka?”
“Ce … .” Belum selesai jawaban, sebuah  pukulan gada sebesar pohon pisang kembali menggepengkan tubuhnya yang sudah kerempang. Sekarang tubuh Birman persis seperti kerupuk yang dijemur.

“Apakah kamu di sekolah tidak pernah diajari agama?”
“Pernah, Malaikat.”
“Siapa nama guru agamamu?”
“Pak Basyir, “jawab Birman sambil memegangi lutut malaikat.
“Apakah ada guru lain, yang mengajarimu kebaikan? Jawaaab!” sambil melepaskan kakinya dari pelukan Birman dengan kasar.
“Ada, Mmma malaikaat, “sambil berusaha bangun.
“Siapa namanya!” bentak malaikat.
“Pak Sartono."
"Pak Sartono yang mana?" Di dunia ini banyak Sartono!"
"Sartonoo Jaaayyyaaa.”

“Apakah mereka, para gurumu, pernah mengajarimu berkata-kata yang tidak senonoh?”
“Tii … daak, Malaikat. Sumpah tidak!”
“Lalu siapa yang mengedrill mulutmu ini sehingga sangat fasih dengan kosa kata itu, “ sambil menampong mulut Birman dan Birman pun gelangsaran. Mengapa engkau tidak meniru ajaran gurumu atau teman-temanmu seperti Monita, Soleha, Hanif, Rivanda untuk berkata-kata yang baik. Akan tetapi, engkau justru meniru, Oghi, Moko, Purnomo, kelompok orang-orang yang kurang ajar itu. Ingat mereka pun kalau mulai sekarang tidak mau berubah, sudah kusiapkan gada pemukul sebesar pohon kelapa. Biar sekali tebas langsung hancur.

“Masih ingatkah ketika hatimu kesal ataupun kamu lagi marah mulutmu mengucapkan apa?” “Ayo Jawaaab!”
“As…, “Malaikat.”
“Masih ingatkah ketika kau kesandung, kata apa yang paling sering kau ucapkan?” “Ayo Jawaab!”
“Ce…., “Malaikat. Bess, secepat kilat tamparan malaikat membuat mulut Birman berdarah-darah.
“Ampuun, Malaikat, beri kesempatan kepadaku untuk bertobat. Sekarang aku ingin menghiasi mulutku dengan ucapan-ucapan yang bagus. Aku juga akan berdoa semoga teman-temanku, Oghi, Moko, dan lain-lain segera bertobat dan tidak menjadikan hewan-hewan itu sebagai piaraan yang menghiasi mulutnya.
“Semuanya sudah terlambat!  Berdoalah saja untuk dirimu sendiri.”


Selasa, 25 Februari 2014

Penulisan Judul Karya Tulis

Kaidah Menulis Judul dalam Karya Tulis

Menurut Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, penulisan judul karya tulis diatur sebagai berikut.
1.         Menggunakan huruf besar di setiap awal kata, kecuali partikel, kata-kata tugas, konjungsi, dan preposisi (pun, ah, oh, per, demi, si, sang, dari, daripada, di, ke, pada, kepada, terhadap, dan, atau, untuk, yang, dalam, dengan, jika, maka, tapi, meskipun, kendati, kalau, karena, bila, tentang, sebagai, secara, seperti, ialah, agar, supaya, hingga)
2.        Kata ulang sempurna ditulis menggunakan huruf besar di setiap huruf awal.
3.        Tidak menggunakan titik.
Contoh Penulisan Judul
1.        Dari Pakis ke Jalan Lain ke Madinah
2.        Kita Tidak Akan ke Mana pun
3.        Dari Sabang sampai Merauke
Bagaimana dengan penulisan kata ulang?
1.        Kata ulang penuh/sempurna ditulis menggunakan huruf kapital di setiap awal kata
2.        Kata ulang berubah bunyi, berimbuhan ditulis menggunakan huruf kapital hanya pada huruf kata pertama
Contoh:
a.       Hukuman yang Pantas bagi Pengutil-Pengutil Uang Negara (murni)
b.      Merevisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (murni)
c.       Menggalakan Tanaman Sayur-mayur di Tengah Bencana (berubah bunyi)
d.      Memberantas Korupsi di Negeri Bohong-bohongan (berimbuhan)
Disarikan dari KBBI, 2008, oleh Sartono Jaya

KISI-KISI US 2022

      Bijak Menyikapi Kisi-Kisi                                                             (oleh Sartono Jaya)           A lhamdulill...